Ikonkata-Pengakuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI melalui status WHO-Listed Authority (WLA) pada Desember 2025 mulai membawa dampak lebih luas bagi Indonesia.
Status tersebut tidak hanya menegaskan pengakuan internasional terhadap sistem regulasi produk kesehatan Indonesia, tetapi juga membuka ruang bagi BPOM untuk berbagi pengalaman dengan regulator kesehatan dari negara lain.
Peran baru itu terlihat dalam penyelenggaraan Institutional Capacity Building Program for Ghana FDA – Training on Vaccine Regulatory Oversight yang dibuka Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Program dalam kerangka South-South Cooperation tersebut diikuti delegasi dari Ghana Food and Drugs Authority (FDA Ghana) dan Noguchi Memorial Institute for Medical Research, dengan dukungan Indonesian Agency for International Development (Indonesian AID/LDKPI).
Taruna mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem kesehatan global melalui kolaborasi antarsesama negara berkembang.
Menurutnya, pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan praktik terbaik menjadi bagian penting untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan regulator kesehatan secara berkelanjutan.
Dari Pengakuan ke Berbagi Pengetahuan
Status WLA yang diperoleh BPOM menjadi modal penting dalam kerja sama tersebut. Pengakuan WHO menunjukkan bahwa sistem pengawasan produk kesehatan Indonesia telah memenuhi standar internasional.
Dengan posisi itu, pengalaman BPOM dalam mengawal mutu, keamanan, dan efektivitas produk kesehatan kini dapat dibagikan kepada regulator negara lain.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dari Ghana akan mendalami tiga pilar utama pengawasan vaksin, yakni Marketing Authorization, Good Manufacturing Practice (GMP) Inspection, dan Laboratory Testing.
Untuk aspek laboratorium, materi difokuskan pada Potency Testing dan Lot Release, yang menjadi bagian penting dalam memastikan mutu vaksin sebelum digunakan masyarakat.
Pembelajaran mencakup keseluruhan rantai pengawasan vaksin, mulai dari evaluasi sebelum izin edar, inspeksi fasilitas produksi, penerapan standar manufaktur, pengujian laboratorium hingga pengambilan keputusan regulator berbasis bukti ilmiah.
Semua proses tersebut diarahkan pada satu tujuan, yakni memastikan vaksin yang beredar memenuhi standar mutu, keamanan, dan efektivitas.
Tak Sekadar Transfer Teknologi
Kerja sama Indonesia dan Ghana di bidang vaksin sebenarnya telah berkembang sebelumnya. Salah satunya melalui kolaborasi PT Bio Farma dan Atlantic Life Science di Ghana dalam program transfer teknologi vaksin.
Namun, bagi Taruna, kerja sama tidak cukup berhenti pada kemampuan produksi.
Penguatan kapasitas regulator juga diperlukan agar kemampuan industri berjalan beriringan dengan sistem pengawasan yang kredibel.
Regulator harus memiliki kemampuan melakukan evaluasi, inspeksi, pengujian, serta pengawasan secara independen dan berbasis sains.
Karena itu, peserta dari Ghana tidak hanya mengikuti pembelajaran di ruang kelas. Mereka juga akan mengunjungi laboratorium BPOM dan fasilitas produksi PT Bio Farma.
Kunjungan tersebut diharapkan memberi pengalaman langsung mengenai penerapan standar regulasi, proses pengujian, mekanisme pengawasan, hingga pengambilan keputusan berdasarkan data dan bukti ilmiah.
WLA Bukan Garis Akhir
Bagi Indonesia, program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa status WLA membawa tanggung jawab baru.
Pengakuan internasional terhadap BPOM bukan menjadi garis akhir, tetapi menjadi pijakan untuk memperluas kontribusi Indonesia dalam memperkuat sistem kesehatan global.
Taruna menekankan pentingnya membangun hubungan jangka panjang antara BPOM dan FDA Ghana. Pertukaran pengalaman dan diskusi teknis diharapkan tidak berhenti setelah program pelatihan selesai.
Kerja sama antarlembaga diharapkan berkembang menjadi jejaring profesional yang dapat memperkuat sistem pengawasan kesehatan di kedua negara.
Pada akhirnya, seluruh kerja sama tersebut bermuara pada kepentingan yang sama: memastikan masyarakat mendapatkan produk kesehatan yang aman, bermutu, dan efektif.
Dalam konteks vaksin, kemandirian kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan sebuah negara memproduksi vaksin. Kapasitas regulator yang kredibel, independen, dan kuat secara ilmiah juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.
Melalui program bersama Ghana, Indonesia menunjukkan peran yang semakin luas pasca memperoleh status WLA.
BPOM tidak hanya menjadi regulator yang diakui secara internasional, tetapi mulai tampil sebagai mitra berbagi pengetahuan dan penguatan kapasitas regulasi kesehatan bagi negara berkembang.

















