Ikonkata-Makassar Half Marathon (MHM) 2026 yang digelar Mei lalu mencatat perputaran uang mencapai Rp52,3 miliar selama lima hari rangkaian kegiatan. Angka itu berasal dari aktivitas ribuan peserta dan pendamping yang datang ke Kota Makassar.
Jika dibagi rata, lebih dari Rp10 miliar berputar setiap hari selama rangkaian event tersebut.
Temuan itu disampaikan Race Director Makassar Half Marathon, Safrita Aryana, usai audiensi bersama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Balai Kota Makassar, Jumat (14/8/2026).
“Kita menyampaikan bahwa dari penyelenggaraan Makassar Half Marathon 2026 tahun ini, kita melakukan survei analisis dampak ekonomi,” ujar Safrita.
Menurutnya, hasil survei tersebut menjadi kabar baik bagi Makassar. Sebab, MHM tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga, tetapi juga membawa ribuan orang masuk ke dalam ekosistem ekonomi kota.
MHM 2026 diikuti sekitar 12.400 peserta, lengkap dengan pendamping masing-masing.
Mereka membutuhkan hotel, makanan, transportasi, kuliner, suvenir, hingga berbagai kebutuhan selama berada di Makassar.
Dari sanalah uang bergerak.
“Artinya, jika kita bagi lima, dalam satu hari ada lebih dari Rp10 miliar uang yang berputar di Makassar,” jelasnya.
Rp2,5 Miliar Menjadi Rp52,3 Miliar
Ada angka lain yang ikut menjadi perhatian: Rp2,5 miliar.
Itulah stimulus anggaran Pemerintah Kota Makassar untuk mendukung penyelenggaraan MHM 2026.
Menurut Safrita, nilai tersebut memberikan dampak ekonomi hingga sekitar 20 kali lipat.
“Stimulus dari Pemerintah Kota sebesar Rp2,5 miliar untuk kegiatan ini memberikan dampak ekonomi hingga 20 kali lipat bagi Kota Makassar,” ungkapnya.
Bagi pemerintah, manfaat event olahraga memang tidak harus kembali dalam bentuk keuntungan ke kas daerah.
Justru yang dicari adalah efek berantainya.
Hotel mendapat tamu. Restoran mendapat pelanggan. Pedagang mendapat pembeli. UMKM mendapat ruang. Transportasi bergerak. Kota menjadi lebih ramai.
“Secara gambaran umum, yang diharapkan Pemerintah Kota saat mengeluarkan dana adalah agar kotanya, masyarakatnya, yang mendapatkan manfaat,” tuturnya.
Safrita menyebut hasil survei tersebut telah diverifikasi. Namun, dalam bahan yang disampaikan, tidak disebutkan lembaga yang melakukan riset tersebut.
Dari 12.400 ke 15.000 Pelari
Capaian ekonomi itu membuat MHM 2027 tidak ingin berjalan dengan ukuran yang sama.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mendorong jumlah peserta dinaikkan menjadi 15.000 orang.
Target tersebut dinilai cukup realistis.
Sebab, survei peserta MHM 2026 menunjukkan 84 persen peserta menyatakan bersedia kembali pada tahun berikutnya.
Jika dihitung dari sekitar 12.000 peserta, terdapat sekitar 9.000 orang yang sudah memiliki keinginan kembali.
Artinya, untuk mencapai 15.000 peserta, penyelenggara tinggal mengejar sekitar 6.000 pelari tambahan.
“Ada pesan Pak Wali, kalau 9.000 orang sudah memberikan komitmen melalui survei untuk kembali, maka untuk mencapai target 15.000 orang, kita tinggal mencari 6.000 orang lagi. Itu pekerjaan rumah yang tidak terlalu sulit untuk dicapai,” kata Safrita.
Namun, jumlah yang lebih besar berarti persoalan baru.
Anjungan Pantai Losari sebagai venue utama harus mampu menampung peserta yang semakin banyak. Karena itu, Munafri meminta penyelenggara menyiapkan skema teknis sejak awal.
Pembagian peserta berdasarkan hari atau kategori menjadi salah satu opsi yang sedang dipikirkan.
“Jadi, apakah harinya atau kategorinya, supaya kegiatan tetap berlangsung maksimal di venue yang selama ini kita gunakan, yaitu di Anjungan Pantai Losari,” jelas Safrita.
Jangan Lagi Ada Cerita Goodie Bag
MHM 2026 memang mendapat apresiasi secara teknis, termasuk dari Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI).
Tetapi tidak semua cerita berjalan mulus.
Salah satu yang menjadi catatan adalah persoalan goodie bag peserta.
Munafri meminta masalah tersebut tidak kembali muncul pada pelaksanaan 2027.
“Tadi Pak Wali Kota hanya menitipkan pesan agar tidak ada lagi isu seperti tahun ini, khususnya isu terkait goodie bag,” ujar Safrita.
Evaluasi juga diarahkan pada pelibatan UMKM.
Pemkot ingin pelaku usaha lokal tidak sekadar menjadi pelengkap event, tetapi mendapat ruang yang dipersiapkan lebih awal dan lebih terencana.
“Pak Wali Kota berpesan agar UMKM tetap dilibatkan secara lebih maksimal dengan jangka waktu persiapan yang lebih panjang,” katanya.
Bagi penyelenggara, evaluasi tersebut bukan perkara mencari siapa yang salah.
“Tidak boleh ada pihak yang disalahkan. Kita akan bangun bersama-sama dengan jangka waktu yang lebih panjang dan dimulai lebih awal,” tegas Safrita.
Naik Kelas, Lebih Mandiri
MHM 2027 juga diarahkan naik kelas secara kompetisi.
Penyelenggara menargetkan event tersebut masuk dalam pengukuran World Athletics serta memperoleh sanction atau lisensi dari PB PASI.
Konsekuensinya, standar penyelenggaraan harus ikut naik.
Termasuk soal hadiah atau prize money yang masih membutuhkan dukungan pemerintah.
Namun, pola pembiayaan juga mulai diarahkan agar MHM semakin mandiri.
Pemkot tetap memiliki peran dalam mengkurasi dan menjaga kualitas event, tetapi pembiayaan diharapkan secara bertahap lebih banyak ditopang sponsor dan para pemangku kepentingan.
“Solusinya, bagaimana apabila kegiatan tahun depan tetap dikurasi oleh Pemkot, namun karena acara ini sudah mendapat kepercayaan dari Pak Wali Kota, para sponsor, serta para stakeholders, diharapkan pembiayaannya bisa lebih mandiri,” jelas Safrita.
Dengan demikian, MHM tidak lagi hanya berbicara soal siapa yang paling cepat berlari 21 kilometer.
Ada kota yang sedang dipromosikan. Ada hotel yang terisi. Ada warung yang mendapat pelanggan. Ada UMKM yang menjual produk. Ada sponsor yang masuk. Dan ada ribuan orang yang membawa cerita tentang Makassar pulang ke daerah masing-masing.
Munafri bahkan disebut mengibaratkan Makassar Half Marathon sebagai main course, atau hidangan utama dalam rangkaian event lari di Kota Makassar.
Jika pada 2026 sebanyak 12.400 peserta menghasilkan perputaran ekonomi Rp52,3 miliar, maka tantangan berikutnya bukan sekadar menambah jumlah pelari.
MHM 2027 kini dipasang dengan target 15.000 peserta, UMKM yang lebih siap, pelayanan yang lebih rapi, standar kompetisi yang lebih tinggi, dan pembiayaan yang semakin mandiri.









