Ikonkata-Anggota DPRD Kota Makassar, Muchlis Misbah, mendukung langkah Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang meminta seluruh rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung tertib, aman, dan tetap memperhatikan norma yang berlaku di masyarakat.
Bagi Muchlis, Agustusan seharusnya menjadi ruang bagi warga untuk bergembira sekaligus mempererat kebersamaan. Namun, kemeriahan itu tetap perlu memiliki batas.
Terutama ketika panggung kemerdekaan mulai diisi musik, hiburan, karnaval, maupun berbagai pertunjukan yang melibatkan anak-anak.
Politisi Partai Hanura itu meminta panitia di tingkat lingkungan lebih cermat memilih pengisi acara serta memastikan penampilan yang disuguhkan tetap sesuai dengan norma kesopanan.
“Perayaan kemerdekaan harus menjadi pesta rakyat yang menyenangkan, tetapi tetap harus memperhatikan kepatutan dan norma yang hidup di masyarakat,” ujar Muchlis.
Ia memberi perhatian khusus terhadap anak-anak yang ikut tampil dalam berbagai kegiatan Agustusan.
Menurutnya, anak-anak harus mengenakan pakaian yang pantas dan sesuai dengan usia mereka. Hal tersebut menjadi tanggung jawab panitia maupun pihak yang terlibat dalam menyiapkan kegiatan.
Muchlis juga mengingatkan agar pemilihan pengisi acara tidak dilakukan sekadar mengejar kemeriahan.
Ia secara khusus menyatakan tidak setuju apabila panggung perayaan kemerdekaan digunakan untuk pertunjukan yang dinilai tidak sesuai dengan norma masyarakat.
Hal serupa berlaku untuk panggung musik dangdut yang kerap menjadi salah satu hiburan dalam perayaan Agustusan.
Panitia, kata Muchlis, perlu memastikan penyanyi maupun pengisi acara tetap menjaga kepantasan dalam berbusana dan beraksi di atas panggung.
Merdeka untuk bergembira, bukan berarti bebas tanpa batas.
Sejalan dengan Imbauan Wali Kota
Sikap Muchlis sejalan dengan imbauan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin terkait pelaksanaan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Munafri sebelumnya meminta seluruh pihak melakukan mitigasi sejak awal untuk mencegah potensi gangguan selama rangkaian kegiatan kemerdekaan.
Pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga perangkat RT dan RW diminta mengambil peran dalam menjaga ketertiban.
Bagi Munafri, perayaan kemerdekaan harus kembali pada tujuan utamanya: menjadi pesta rakyat yang menghadirkan kegembiraan.
“Ini menjadi tanggung jawab wajib untuk kita semua untuk bisa menjaga, sehingga kegiatan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan ini benar-benar menjadi pesta yang dilakukan oleh masyarakat, dari masyarakat untuk masyarakat secara riang dan gembira,” kata Munafri.
Ia meminta potensi konflik sosial, kejahatan jalanan, hingga tawuran diantisipasi sejak awal.
Jangan sampai pesta yang seharusnya menjadi ruang kegembiraan justru berubah menjadi sumber persoalan.
“Ini penting sekali, harus menjaga dan membangun mitigasi sehingga dalam rangka kegiatan kemerdekaan ini benar-benar menjadi pestanya rakyat, pesta masyarakat yang seluruh orang happy dan dijaga dengan baik,” ujarnya.
MUI Ikut Menyoroti Busana
Persoalan penampilan dalam kegiatan kemerdekaan juga menjadi perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, menyoroti fenomena pria yang mengenakan pakaian yang secara umum identik dengan perempuan dalam sejumlah kegiatan karnaval dan pawai Agustusan.
Abdul Muiz menyebut praktik tersebut sebagai tasyabbuh, yakni menyerupai lawan jenis, dan menyatakan hal tersebut dilarang dalam perspektif syariat Islam.
“Haram hukumnya bagi laki-laki untuk berpenampilan atau menggunakan busana yang biasa dipakai oleh perempuan. Begitu pula sebaliknya,” ujar Abdul Muiz.
Pernyataan tersebut menambah warna dalam perbincangan mengenai batas kepantasan dalam berbagai kegiatan perayaan kemerdekaan.
Namun, bagi Muchlis, persoalan utama di tingkat masyarakat adalah bagaimana panitia dan pemerintah setempat mampu memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan tidak menimbulkan keresahan.
Karena itu, pengawasan menurutnya tidak seharusnya baru dilakukan ketika acara sudah berlangsung.
Sejak menentukan konsep, memilih pengisi acara, hingga menyiapkan panggung, seluruhnya perlu dipertimbangkan.
Sebab, pesta kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling ramai menonton atau siapa yang paling heboh tampil di atas panggung.
Ada anak-anak yang ikut menyaksikan. Ada keluarga yang datang bersama. Ada lingkungan yang hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang.
Kemerdekaan boleh dirayakan dengan riang. Tetapi kegembiraan juga perlu tahu tempat, waktu, dan batas.
Muchlis berharap seluruh rangkaian HUT ke-81 RI di Makassar tetap menjadi pesta rakyat yang meriah, aman, dan menyatukan warga tanpa meninggalkan norma yang selama ini dijaga bersama.









