Xavi “Pulang” ke Rumah Sepak Bola, Orange Langsung Bermimpi 2030

Johan Cruyff dan Rinus Michels sebagai bagian penting dari akar pemikirannya. Louis van Gaal, yang memberinya debut di Barcelona, serta Frank Rijkaard juga disebut memiliki pengaruh besar dalam perjalanan Xavi sebagai pemain maupun pelatih.

Ikonkata-Enam belas tahun lalu, Xavi Hernández berdiri di sisi yang salah dari sejarah Belanda. Di Soccer City, Johannesburg, gelandang Spanyol itu menjadi salah satu pengendali permainan dalam final Piala Dunia 2010. Spanyol menang 1-0 melalui gol Andrés Iniesta pada perpanjangan waktu.

Belanda kembali pulang dengan luka yang sama, menjadi finalis, tetapi gagal membawa pulang trofi. Kini, Xavi kembali berhadapan dengan Oranje. Bukan sebagai lawan. Bukan pula sebagai pemain. Mantan bintang Barca dan Spanyol itu  datang sebagai pelatih.

banner 970x250

Federasi sepak bola Belanda menunjuk Xavi sebagai pelatih kepala baru tim nasional dengan kontrak hingga Piala Dunia 2030. Pelatih asal Spanyol berusia 46 tahun itu menggantikan Ronald Koeman dan sekaligus menjadi pelatih asing pertama Oranje dalam hampir setengah abad. Xavi adalah pelatih asing pertama Belanda sejak Ernst Happel asal Austria meninggalkan jabatan tersebut pada 1978.

Penunjukan itu bukan sekadar pergantian pelatih.

Seorang Spanyol yang tumbuh dengan filosofi Johan Cruyff kini dipercaya menghidupkan kembali sepak bola Belanda, negara yang lebih dulu menanam benih filosofi tersebut ke dalam dunia sepak bola modern.

Xavi sendiri tidak melihat Belanda sebagai wilayah asing.

“Bagi saya, merupakan sebuah kehormatan besar untuk menjadi pelatih kepala tim nasional Belanda,” ujar Xavi.

Ia menyebut Johan Cruyff dan Rinus Michels sebagai bagian penting dari akar pemikirannya. Louis van Gaal, yang memberinya debut di Barcelona, serta Frank Rijkaard juga disebut memiliki pengaruh besar dalam perjalanan Xavi sebagai pemain maupun pelatih.

Dengan kata lain, Xavi datang ke Belanda membawa DNA yang sebenarnya sudah lama ada di dalam dirinya.

Dari Cruyff ke Xavi

Sepak bola Belanda dan Barcelona memiliki sejarah hubungan yang panjang.

Cruyff menjadi jembatan terbesar di antaranya. Filosofi permainan berbasis penguasaan bola, posisi, pergerakan, dan keberanian menyerang kemudian berkembang di Barcelona hingga melahirkan generasi yang mengubah sepak bola dunia.

Xavi adalah salah satu produk terbaik dari sistem tersebut.

Pada Piala Dunia 2010, Xavi memainkan peran fundamental ketika Spanyol akhirnya menjadi juara dunia. Dalam final melawan Belanda, akurasi umpannya mencapai 93 persen.

Kini, filosofi yang pernah digunakan untuk mengalahkan Belanda justru akan digunakan untuk memimpin Belanda.

“Saya merasa memiliki hubungan khusus dengan sepak bola Belanda,” kata Xavi.

Ia ingin Oranje bermain dengan sepak bola menyerang, berbasis penguasaan bola, kreativitas, gairah, dan keyakinan.

Namun Xavi juga memberikan satu batas yang jelas.

“Saya lebih memilih untuk meraihnya dengan cara yang mencerminkan karakteristik tersebut dan dapat dinikmati oleh banyak orang,” ujarnya.

Karier kepelatihannya dimulai di Al Sadd, Qatar. Dalam dua setengah musim, ia membawa klub tersebut meraih sejumlah gelar sebelum kembali ke Barcelona—kali ini sebagai pelatih.

Di Camp Nou, ia membawa Barcelona meraih gelar La Liga musim 2022/23. Namun periode keduanya di Barcelona berakhir pada 2024.

Setelah hampir dua tahun tidak menangani tim, Xavi kini mendapatkan pekerjaan yang berbeda secara karakter.

Di klub, ia memiliki waktu hampir setiap hari untuk membangun sistem.

Di tim nasional, waktu jauh lebih sedikit.

Ia harus membangun identitas melalui beberapa sesi latihan, memanfaatkan pemain yang sudah memiliki pemahaman taktik masing-masing, lalu berharap semuanya menyatu ketika pertandingan tiba.

 

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *