IKAFE Unhas Bunyikan Alarm Ekonomi, Serukan Reformasi Tata Kelola Ekonomi

Seruan Bulungan lahir dari berbagai perspektif, dan kejernihan melihat permasalahan bangsa saat ini.

Ikonkata- Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas  membunyikan alarm serius terhadap kondisi ekonomi nasional. Melalui forum diskusi Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE Unhas), para akademisi, profesional, dan pelaku usaha menilai Indonesia tengah menghadapi ancaman “drifting economy” atau ekonomi yang bergerak tanpa arah transformasi yang jelas.

Pernyataan tersebut dituangkan dalam dokumen bertajuk Seruan Bulungan yang lahir dari diskusi di kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (10/05/2026).

banner 970x250

“Alarm bahaya sebenarnya sudah berbunyi. IKAFE Unhas ingin mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar kita tidak terlambat membaca situasi,” kata Hendra Noor Saleh.

Melalui bunyi pesan rilis yang disebar oleh Senin (11/5/2026), IKAFE melihat persoalan struktural yang semakin kompleks di mana jika dianalogikan sebagai seorang pasien, Indonesia masih memiliki organ-organ vital yang bekerja: inflasi relatif terkendali, sistem keuangan masih berjalan,  namun aktivitas ekonomi belum sepenuhnya lumpuh. Namun di balik stabilitas permukaan tersebut, tersimpa “komplikasi kronis” yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek, stimulus sesaat, atau narasi optimisme semata.

Seruan Bulungan adalah suara jernih anak bangsa, yang kebetulan pernah sama-sama mengecap pendidikan tinggi Fakultas Ekonomi Unhas. Orang-orang yang mencintai bangsa ini tanpa reserve, tanpa interest dan tanpa kebencian.Mereka yang tergabung dalam Seruan Bulungan merupakan alumni Unhas yang tercatat sebagai  akademisi jdari kampus-kampus ternama di Jakarta, Surabaya, Bandung.  Juga menjabat  CEO di  perusahan ternama, enterprenuer, posisi penting di berbagai lembaga keuangan, direktur perusahaan asing, pelaku dunia usaha dan pemerintahan, dan ada juga ibu rumah tangga, posisi terhormat dalam masyarakat madani.

Seruan Bulungan lahir dari berbagai perspektif, dan kejernihan melihat permasalahan bangsa saat ini.

Menurutnya fenomena akhir-akhir ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai paradoks stabilitas. Selama dua dekade terakhir, Indonesia berhasil membangun fondasi makroekonomi yang relatif kokoh melalui pengendalian inflasi, disiplin fiskal, stabilitas nilai tukar, dan penguatan sektor perbankan. Akan tetapi, stabilitas mulai menunjukkan keterbatasannya dalam mendorong transformasi ekonomi yang lebih progresif. Benteng stabilitas perlahan berubah menjadi “sangkar” yang membatasi akselerasi produktivitas, inovasi, industrialisasi, dan daya saing nasional. Fondasi yang kuat tanpa diikuti bangunan ekonomi yang produktif hanya akan menghasilkan ruang kosong.

“Artinya, tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan lagi sekadar menjaga stabilitas, melainkan bagaimana mentransformasikan stabilitas menjadi energi penggerak ekonomi yang mampu menciptakan produktivitas tinggi, lapangan kerja berkualitas, serta pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan” tulis seruan yang ditangani Andi oleh Hendra Noor Saleh, Ketua IKAFE Unhas.

Masalah utama Indonesia saat ini bukan semata-mata terletak pada lemahnya satu indikator tertentu, melainkan pada belum terintegrasinya berbagai fondasi secara optimal. Tanpa sinkronisasi yang kuat, indikator makroekonomi hanya akan menjadi “kosmetik ekonomi”: terlihat indah di atas kertas, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Seruan Bulungan ini menyatakan bahwa ekonomi yang benar-benar transformatif memerlukan setidaknya tiga bentuk integrasi utama: Integrasi Horizonta : Kemampuan menghubungkan sektor hulu berbasis komoditas dengan sektor hilir berbasis manufaktur dan industri bernilai tambah.Integrasi Vertikal : Sinkronisasi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal agar stabilitas suku bunga, nilai tukar, dan pembangunan nasional dapat bergerak searah tanpa saling melemahkan. Integrasi Sumber Daya Manusia : Peningkatan kualitas SDM agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada angka Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi benar-benar menghasilkan produktivitas tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat.

IKAFE Unhas menilai Indonesia kini menghadapi apa yang disebut sebagai paradoks stabilitas. Selama dua dekade terakhir, pemerintah dianggap berhasil menjaga disiplin fiskal, stabilitas nilai tukar, hingga penguatan sektor perbankan. Namun stabilitas tersebut dinilai belum mampu mendorong transformasi ekonomi yang produktif.

“Stabilitas tanpa transformasi hanya menghasilkan angka-angka indah di atas kertas, tetapi rapuh menghadapi tekanan zaman,” demikian salah satu poin dalam Seruan Bulungan.

Forum tersebut juga menyoroti lemahnya sinkronisasi antar fondasi ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi disebut belum sepenuhnya ditopang produktivitas industri, kualitas sumber daya manusia, maupun integrasi kebijakan fiskal dan moneter.

IKAFE Unhas mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini terlalu bergantung pada belanja pemerintah dan stimulus fiskal, sementara daya beli masyarakat melemah dan sektor manufaktur mulai menunjukkan tanda kontraksi.

Beberapa indikator yang menjadi perhatian dalam Seruan Bulungan antara lain tekanan nilai tukar rupiah yang disebut sempat menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS, melemahnya Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur, tingginya harga energi nonsubsidi, hingga meningkatnya beban pembayaran bunga utang negara.

Selain itu, berbagai program berbasis anggaran besar dinilai mulai membebani ruang fiskal negara jika tidak dijalankan secara selektif dan terukur.

Hendra Noor Saleh menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh ditutup-tutupi dengan narasi optimisme semata.

“Komunikasi publik harus berbasis realitas dan data. Budaya ABS atau Asal Bapak Senang harus dihentikan karena hanya akan memperburuk keadaan,” tegasnya.

Dalam Seruan Bulungan, IKAFE Unhas juga menyerukan pentingnya reformasi tata kelola ekonomi berbasis meritokrasi, kompetensi, integritas, dan keterbukaan terhadap kritik.

Mereka menilai Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang inklusif dan independen, serta sinergi kuat antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sipil agar stabilitas ekonomi tidak berubah menjadi stagnasi berkepanjangan.

“Indonesia tidak kekurangan sumber daya manusia unggul. Yang dibutuhkan adalah keberanian membuka ruang objektif agar potensi bangsa bisa bekerja untuk menyelamatkan arah pembangunan nasional,” ujar Hendra.

Seruan Bulungan ditutup dengan penegasan bahwa tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan sekadar menjaga stabilitas ekonomi, tetapi memastikan stabilitas itu mampu menjadi energi penggerak transformasi nasional yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *