Ikonkata-Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), melakukan kunjungan kerja ke Istana Kepresidenan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Dalam kunjungan tersebut, KDM menyoroti pentingnya menjaga nilai ekologi dan historis istana yang dibangun sejak tahun 1742 tersebut dari ancaman sampah dan desakan pembangunan pemukiman.
Istana Cipanas yang dikenal sebagai istana kepresidenan tertua di Indonesia ini dinilai memerlukan perlindungan hukum khusus agar kewibawaan dan kelestarian lingkungannya tetap terjaga.
Masalah Sampah Kiriman dari Hulu
Dalam tinjauannya, KDM menerima keluhan dari pihak pengelola istana mengenai aliran Sungai Cisabuk dan Sungai Jalimun yang kerap membawa sampah rumah tangga dari pemukiman warga masuk ke area istana. Kondisi ini seringkali membuat jebol pintu air atau grill penahan sampah saat hujan deras melanda kawasan Puncak.
Merespons hal tersebut, KDM langsung menawarkan solusi konkret dengan berencana mengerahkan petugas dari PSDA Provinsi untuk rutin membersihkan sungai. “Saya akan siapkan petugas pembersih sungai setiap hari di sini. Sambil kita merubah pola pikir masyarakat melalui sistem pengelolaan sampah desa yang lebih baik,” tegas KDM.
Wacana Pergub Proteksi Gedung Bersejarah
KDM juga menyoroti banyaknya bangunan atau hotel di sekitar kawasan bersejarah yang pembangunannya tidak memperhatikan estetika dan keamanan objek vital negara. Ia mencemaskan kejadian di daerah lain di mana gedung bersejarah “terpungung” oleh hotel-hotel tinggi.
Untuk mencegah hal itu terjadi di Cipanas, KDM berencana menggodok Peraturan Gubernur (Pergub) yang akan mengatur radius pembangunan di sekitar gedung bersejarah di Jawa Barat. “Nanti saya buatkan Pergub-nya. Harus ada batasan radius, tidak boleh ada bangunan yang ketinggiannya melebihi istana atau desainnya merusak pandangan. Ini demi menjaga marwah situs sejarah kita,” ujarnya.
Filosofi Ekologi Pajajaran
Di sela-sela langkah menyusuri hutan lindung seluas 2,5 hektar di area istana, KDM berbagi pandangannya tentang filosofi ekologi Raja Pajajaran. Menurutnya, pemilihan lokasi Istana Cipanas oleh Belanda pada masa lalu selaras dengan kearifan lokal yang menganggap kawasan tersebut sakral karena kandungan mineral dan sumber air panasnya yang melimpah.
Ia memberikan pujian pada pepohonan besar yang tetap tegak berdiri meski telah berusia ratusan tahun. “Membangun jalan tol ribuan kilometer saya sanggup, anggarannya ada. Tapi menanam pohon sampai besar dan rimbun seperti ini, uang tidak bisa membelinya. Ini kemewahan yang sebenarnya,” tutur KDM.
Harapan Penataan Ruang Jawa Barat
KDM juga menyentil fenomena banjir di kawasan Puncak yang menurutnya sangat ironis. Ia menilai hal tersebut merupakan dampak dari perubahan tata ruang yang tidak terkendali. Melalui kunjungan ini, ia berkomitmen untuk terus mengembalikan fungsi lahan hijau di Jawa Barat agar situs seperti Istana Cipanas tidak hanya menjadi saksi sejarah yang bisu, tetapi tetap menjadi paru-paru bagi wilayah sekitarnya.
Hingga akhir kunjungannya, KDM menyempatkan diri melihat jembatan peninggalan era Belanda yang masih berdiri kokoh dan menekankan pentingnya perawatan infrastruktur lama dengan sentuhan teknologi modern tanpa merusak nilai aslinya.









