Dulu, kampus ini bernama IKIP Ujungpandang- “Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan”.
Orang-orang di kampung Sulawesi Selatan mengenal IKIP sebagai tempat menimba ilmu jika ingin menjadi guru, teladan, dan pendidik bagi masa depan keluarga mereka.
Saya masih mengingatnya. Ketika itu saya masih mengenyam bangku SDN di sebuah kampung – Labawang – nun jauh di pelosok Kabupaten Wajo. Kakak saya kuliah di IKIP Ujungpandang dan kemudian menjadi guru sekolah menengah atas.
Tetapi kali ini saya tidak ingin bercerita tentang kakak saya. Saya justru ingin bercerita tentang mahasiswi IKIP yang sedang KKN di kampung kami.
Saya masih ingat betul bagaimana mereka dengan telaten mengajari kami, anak-anak SDN. Bukan hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Mereka mengajari kami banyak hal. Kami berkemah di halaman sekolah, lalu pada malam hari belajar bahasa Inggris dan matematika.
Namun, yang paling saya ingat adalah bagaimana mereka menanamkan kepada kami pentingnya bahasa Inggris untuk masa depan dan percaturan global.
Suatu waktu pada tahun 2001, ketika mendapat beasiswa dan mengikuti program tentang media dan manajemen di Western Kentucky University (WKU), saya baru benar-benar memahami apa yang pernah disampaikan mahasiswi KKN itu ketika saya masih bocah. Bahasa Inggris adalah bahasa pergaulan dunia, bahasa yang bisa membuka jalan bagi pendidikan dan masa depan.
Kenangan itu yang membuat saya kembali teringat pada sebuah kampus “IKIP Ujungpandang”.
Namun, #JejakAno kali ini tidak ingin panjang-panjang bercerita tentang nostalgia. Saya justru tertarik pada seorang profesor dengan pengalaman internasional yang ingin mengabdikan diri di kampus yang kini bernama Universitas Negeri Makassar (UNM).
Namanya Prof. Ismunandar.
Kebetulan, pada Oktober ini berlangsung proses pendaftaran calon rektor UNM yang akan menakhodai kampus dengan gedung berlambang Phinisi itu.
Ismunandar telah mendaftar sebagai calon rektor UNM. Pengalamannya di dunia pendidikan dan kerja sama internasional menjadi bagian penting dari perjalanan yang dibawanya. Pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk UNESCO di Paris. Dalam posisi itu, Ismunandar bertugas mengelola dan memperkuat kerja sama internasional antara Indonesia dan negara-negara anggota UNESCO di bidang pendidikan, sains, kebudayaan, serta komunikasi dan informasi.
Sebagai Dubes terlibat pula dalam pengawalan pendaftaran unsur budaya dan alam Indonesia agar mendapat pengakuan dunia, serta berpartisipasi dalam sidang-sidang UNESCO untuk membahas kebijakan global, pendidikan global dan arah organisasi tersebut.
Pengalamannya tidak berhenti di UNESCO. Ismunandar juga pernah bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura dan Washington, D.C., Amerika Serikat. Sementara di dalam negeri, Ismunandar tercatat pernah menjabat sebagai Dirjen Belmawa Ristekdikti.
Istrinya yang juga berasal dari Makassar menjanjikan UNM akan lebih banyak didorong ke tingkat internasional. Pengalaman dan jaringan internasional tentu menjadi salah satu modal yang penting untuk itu.
Pembaca #JejakAno ketahui, tantangan perguruan tinggi hari ini tidak lagi hanya berkutat pada persaingan antarkampus di dalam negeri. Universitas juga harus bersiap menghadapi perubahan dan persaingan global.
Perkembangan kecerdasan buatan, misalnya, mengubah cara belajar, mengajar, melakukan penelitian, dan mengevaluasi mahasiswa. Perguruan tinggi dituntut menyesuaikan kurikulum sekaligus menjaga integritas akademik.
Dunia kerja juga berubah cepat. Keterampilan praktis, sertifikasi profesional, magang, dan kolaborasi dengan industri semakin penting. Kurikulum perguruan tinggi harus mampu mengikuti perubahan tersebut.
Di sisi lain, universitas bersaing untuk menarik mahasiswa internasional, mendapatkan dosen berkualitas, serta memperoleh pendanaan riset. Semua itu membutuhkan investasi dan kemampuan membangun kerja sama.
Perguruan tinggi juga menghadapi tekanan finansial. Ketergantungan pada uang kuliah dan subsidi pemerintah tidak selalu cukup. Pengembangan riset, paten, pelatihan profesional, serta sumber pendapatan lain menjadi semakin penting.
Di tengah tantangan itu, pengalaman internasional Ismunandar patut menjadi bahan pertimbangan bagi UNM, kampus yang dikenal dengan warna oranyenya.
UNM tentu memiliki perjalanan dan kekuatannya sendiri. Namun, ke depan, persaingan perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari posisinya di antara kampus-kampus nasional seperti Unhas, UGM, UI, atau Unair. Kampus juga harus memikirkan bagaimana mengambil peran dalam lingkungan pendidikan global.
Saya kembali teringat pada mahasiswi KKN yang dahulu mengajari kami bahasa Inggris di kampung. Ketika itu, mungkin kami belum memahami sepenuhnya apa yang mereka maksud tentang masa depan. Saya sendiri baru merasakannya bertahun-tahun kemudian.
Dari pengalaman kecil itu, saya belajar bahwa pendidikan bisa membuka jalan yang tidak selalu terlihat sejak awal.
Kini, UNM menghadapi tantangan yang berbeda. Pengalaman internasional Ismunandar menjadi salah satu hal yang layak diperhitungkan dalam menentukan arah kampus ke depan.
Sebab, kampus yang dahulu dikenal anak-anak kampung sebagai tempat belajar untuk menjadi guru, hari ini juga dituntut menyiapkan generasi yang mampu bersaing di dunia yang semakin terbuka.
#JejakAno









