Maros Kawal Kasus TKI Tewas di Armenia, Pemulangan Jenazah Jadi Prioritas

Pemkab Maros berkoordinasi dengan Kementerian P2MI dan KBRI Kyiv menyusul dugaan pembunuhan terhadap pekerja migran asal Moncongloe yang masih diselidiki aparat Armenia.

Pemerintah Kabupaten Maros mengawal penanganan kasus meninggalnya pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Maros, Valenth Alexie Tamboto (24), yang ditemukan meninggal dunia di Armenia. Korban diduga menjadi korban pembunuhan, namun hingga kini penyebab pasti kematian masih menunggu hasil penyelidikan aparat setempat.

Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan pemerintah daerah telah bergerak mendampingi keluarga korban sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan proses penanganan berjalan optimal.

banner 970x250

“Kami sudah mengunjungi keluarga untuk memberikan semangat dan berupaya mencari jalan keluarnya,” kata Chaidir, Selasa (21/7).

Menurut Chaidir, Pemkab Maros telah berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Kementerian, lanjut dia, juga telah menjalin komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kyiv, Ukraina, yang menangani urusan diplomatik Indonesia untuk Armenia.

Pemerintah daerah kini menunggu perkembangan hasil investigasi dari otoritas Armenia, sembari terus mendorong agar jenazah korban dapat segera dipulangkan ke tanah air.

“Kami akan terus berusaha agar harapan keluarga untuk memulangkan jenazah adinda Valenth bisa terwujud,” ujarnya.

Valenth diketahui merupakan warga Desa Moncongloe Lappara, Kecamatan Moncongloe, dan baru sekitar tiga bulan bekerja di Armenia. Sebelumnya, ia pernah bekerja di Filipina sebagai pekerja migran.

Kepala Desa Moncongloe Lappara, Sirajuddin, mengatakan pemerintah desa masih menunggu informasi resmi terkait penyebab kematian warganya tersebut.

“Informasi yang beredar memang mengarah pada dugaan pembunuhan, tetapi kami masih menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang,” katanya.

Sementara itu, adik korban, Arnold Tamboto, mengaku sempat berkomunikasi dengan kakaknya melalui aplikasi Telegram beberapa jam sebelum kabar duka diterimanya. Setelah percakapan itu, seluruh pesan yang dikirimnya tidak lagi mendapat balasan.

Arnold mengaku baru mengetahui kakaknya meninggal setelah menerima telepon dari keluarga pada malam hari.

Pihak keluarga juga memperoleh informasi bahwa seorang pria asal Makassar yang disebut sebagai rekan kerja sekaligus perekrut korban telah diamankan aparat Armenia. Namun, informasi tersebut masih bersifat sementara dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas setempat.

Hingga kini, aparat penegak hukum Armenia masih melakukan penyelidikan dan belum mengumumkan hasil resmi mengenai penyebab kematian maupun pihak yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut.

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *