Ikonkata-Gletser Puncak Jaya di Pegunungan Jayawijaya, Papua, yang selama ini dikenal sebagai “salju abadi” Indonesia, berada di ambang kepunahan.
Data BMKG menunjukkan luas tutupan es Puncak Jaya pada 2024 hanya sekitar 0,11–0,16 kilometer persegi. Angka tersebut turun dari sekitar 0,23 kilometer persegi pada 2022. Jika dibandingkan dengan kondisi pada 1988, tutupan es telah menyusut sekitar 98 persen.
Penyusutan tidak hanya terjadi pada luas permukaan. Ketebalan es juga terus berkurang dengan laju sekitar 2–2,5 meter per tahun sejak 2016.
Pada akhir 2023 atau awal 2024, ketebalan es yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 4 meter.
Salah satu faktor utama adalah perubahan posisi garis beku 0 derajat Celsius. Sejak 1997, garis beku rata-rata telah berada di atas ketinggian puncak es Puncak Jaya.
Kondisi tersebut membuat presipitasi di kawasan gletser semakin sering turun dalam bentuk hujan, bukan salju. Pada saat yang sama, lapisan es yang sudah terbentuk terus mengalami pencairan.
BMKG memperkirakan tutupan es Puncak Jaya dapat habis jika laju penyusutan terus berlangsung. Informasi BMKG juga menyebut gletser tersebut berpotensi hilang sepenuhnya dalam rentang akhir 2025 hingga awal 2027.
Istilah “salju abadi” selama ini merujuk pada kemampuan es bertahan sepanjang tahun di kawasan tropis Puncak Jaya. Namun, perubahan iklim telah mengganggu keseimbangan tersebut dan mempercepat penyusutan gletser.
Jika seluruh es menghilang, Indonesia akan kehilangan salah satu fenomena alam paling uniknya, yakni gletser tropis yang selama ini menjadi kawasan es abadi di wilayah Indonesia.










