ikonkata-Anggota DPD RI asal Sulawesi Selatan, A. Abd. Waris Halid, menegaskan pengemudi ojek online (ojol) merupakan bagian penting dari pergerakan ekonomi masyarakat. Karena itu, persoalan yang dihadapi para pengemudi ojol harus mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan dan pelayanan publik.
Hal tersebut disampaikan Waris Halid saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dihadiri komunitas pengemudi ojol di Makassar, Minggu (13/9/2026).
Waris mengatakan, aktivitas pengemudi ojol tidak sebatas mengantar penumpang. Setiap hari mereka mengantarkan makanan, barang, hingga berbagai kebutuhan masyarakat. Di balik pekerjaan tersebut, terdapat keluarga yang menggantungkan kehidupan pada penghasilan para pengemudi.
“Di balik helm dan jaket yang saudara kenakan, ada tanggung jawab besar: kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, dan harapan keluarga. Karena itu, pekerjaan saudara harus dihargai, keselamatan saudara harus menjadi perhatian, dan suara saudara harus mendapat tempat dalam pembicaraan tentang pembangunan,” ujar Waris.
Dalam pertemuan tersebut, Waris turut menyoroti sejumlah persoalan kebutuhan dasar yang belakangan dirasakan masyarakat, mulai dari ketersediaan BBM dan gas, air bersih hingga listrik.
Menurutnya, persoalan pelayanan dasar memiliki dampak langsung terhadap penghasilan masyarakat, termasuk pengemudi ojol.
Bagi pengemudi ojol, misalnya, kesulitan mendapatkan BBM bukan sekadar persoalan antrean. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari penumpang bisa habis di SPBU. Ketika kendaraan tidak dapat beroperasi, kesempatan mendapatkan penghasilan pun ikut hilang.
Gangguan pasokan gas juga dapat berdampak pada usaha makanan dan UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem layanan pengantaran.
“Bagi masyarakat, kepastian kebutuhan dasar adalah bagian dari kepastian hidup. Keluhan seperti ini layak didengar dan ditindaklanjuti. Masyarakat membutuhkan penjelasan yang terbuka, saluran pengaduan yang berfungsi, serta langkah perbaikan yang jelas dari pihak-pihak yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Sebagai anggota MPR RI dari Sulawesi Selatan, Waris mengatakan dirinya memiliki kewajiban menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui mekanisme kelembagaan yang tersedia.
Ia meminta masyarakat, termasuk komunitas ojol, tidak ragu menyampaikan persoalan pelayanan publik secara tertib, faktual dan bertanggung jawab.
“Kalau ada pelayanan yang bermasalah, sampaikan keluhannya. Catat lokasi, waktu, dan dampaknya. Gunakan saluran pengaduan, organisasi komunitas, serta perwakilan rakyat agar masalah tersebut dapat ditindaklanjuti secara terarah,” katanya.
Empat Pilar Tak Boleh Berhenti di Ruang Sosialisasi
Waris menegaskan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tidak boleh berhenti sebagai pemahaman konsep. Nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan nilai Pancasila dapat diwujudkan pengemudi ojol melalui perilaku sederhana, seperti bekerja jujur, menjaga keselamatan penumpang, menghormati pengguna jalan dan membantu sesama.
Sementara prinsip keadilan sosial, kata Waris, harus menjadi pengingat bagi penyelenggara negara agar pembangunan dan pelayanan publik memberikan manfaat bagi masyarakat yang bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga.
“Pelayanan dasar yang andal dan kesempatan mencari nafkah yang layak harus terus diperjuangkan,” ujarnya.
Waris juga menilai kritik terhadap pelayanan publik merupakan bagian dari demokrasi selama disampaikan secara tertib dan berdasarkan fakta.
“Kritik yang disampaikan dengan tertib, berdasarkan fakta, dan bertujuan untuk perbaikan adalah bagian dari partisipasi warga negara dalam demokrasi. Mencintai Indonesia juga berarti ikut memperbaiki pelayanan dan kehidupan di dalamnya,” katanya.
Beda Jaket, Jangan Beda Persaudaraan
Di hadapan para pengemudi ojol, Waris juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan meski terdapat perbedaan platform, organisasi maupun komunitas.
“Warna jaket boleh berbeda, aplikasi yang digunakan boleh berbeda, komunitas boleh berbeda. Persaudaraan tetap perlu kita jaga. Di jalan kita berbagi ruang, dalam kehidupan kita berbagi tanggung jawab,” tuturnya.
Ia meminta para pengemudi dan masyarakat berhati-hati menerima maupun menyebarkan informasi melalui media sosial dan grup percakapan. Informasi yang belum terverifikasi dinilai dapat memicu kesalahpahaman dan mengganggu hubungan sosial.
Waris kemudian mengaitkan nilai Empat Pilar dengan kearifan lokal Sulawesi Selatan, yakni sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge—saling memanusiakan, menghargai dan mengingatkan.
Menurutnya, nilai tersebut sangat relevan bagi pengemudi ojol yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Menutup kegiatan, Waris menitipkan tiga pesan kepada para pengemudi ojol: bekerja dengan jujur dan mengutamakan keselamatan, menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, serta berani menyampaikan aspirasi secara tertib, jelas dan bertanggung jawab.
Ia juga meminta pihak yang bertanggung jawab atas pelayanan dasar memberi perhatian serius terhadap keluhan masyarakat mengenai BBM, gas, air bersih dan listrik.
“Dengarkan pengalaman warga, jelaskan keadaan dengan terbuka, dan upayakan perbaikan yang dapat dirasakan. Kepercayaan masyarakat tumbuh ketika keluhan mereka didengar dan pelayanan terus membaik,” tegas Waris.
Ia berharap nilai-nilai Empat Pilar semakin hidup dalam keseharian masyarakat dan tidak berhenti sebagai materi sosialisasi.
“Kita ingin anak-anak kita tumbuh di negeri yang rukun, adil, dan memberi ruang bagi mereka untuk meraih masa depan. Harapan itu kita bangun bersama melalui pekerjaan yang jujur, kepedulian kepada sesama, dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah,” pungkasnya.









