Dari Sulawesi untuk Dunia: Jejak Seni Manusia Purba Tertua Terungkap di Indonesia

Lukisan Gua Berusia Hingga 67.800 Tahun di Sulawesi Ubah Peta Arkeologi Dunia dan Perkuat Jejak Awal Manusia Modern

Ikonkata-Tebing-tebing karst yang menjulang di Leang-Leang dan kawasan gua purba di Pulau Muna kini menempatkan Indonesia di pusat perbincangan arkeologi dunia.

Di balik dinding batu yang sunyi selama puluhan ribu tahun, para peneliti menemukan jejak artistik manusia purba berupa cap tangan, figur babi hutan, adegan berburu, hingga simbol-simbol naratif yang diperkirakan berusia antara 51.200 hingga 67.800 tahun — menjadikannya seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal di dunia.

banner 970x250

Penemuan tersebut tidak hanya mengubah pemahaman tentang sejarah seni manusia, tetapi juga memperkuat teori bahwa kawasan Wallacea, termasuk Sulawesi, merupakan salah satu pusat penting migrasi awal manusia modern menuju Australia dan Papua.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adhi Agus Oktaviana, menjadi salah satu sosok di balik riset monumental tersebut.

Dalam sebuah diskusi peluncuran platform digital gambar cadas prasejarah Indonesia di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Adhi menceritakan bagaimana perjalanan panjang penelitian itu dimulai dari gua-gua terpencil di Sulawesi.

“Penelitian gambar cadas itu sebetulnya pada 2014 sudah terpublikasi di jurnal internasional dengan umur sekitar 40.000 tahun. Publikasi itu kemudian mendapat perhatian dunia,” ujarnya.

Penelitian terus berkembang hingga pada 2019 tim peneliti Indonesia kembali menggemparkan dunia melalui publikasi seni cadas Sulawesi yang masuk daftar 10 penemuan ilmiah paling revolusioner versi Science Magazine.

Namun perjalanan riset tersebut jauh dari mudah.

Pada 2020, saat melakukan ekskavasi di Leang Tedongnge, Adhi menerima informasi awal mengenai potensi kolaborasi dengan Google untuk mendokumentasikan situs-situs seni cadas Indonesia.

Dari situlah tim mulai kembali menelusuri gua-gua terpencil di Sulawesi yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki selama berjam-jam, menyeberangi sungai, mendaki pegunungan karst, dan masuk ke lorong-lorong gua gelap yang nyaris tak tersentuh.

“Leang Tedongnge itu sangat terpencil. Perjalanan dari kampung terakhir bisa tiga jam jalan kaki menyusuri sungai dan pegunungan,” kenang Adhi.

Dalam salah satu ekspedisi tahun 2022 di Leang Uhallie, tim peneliti bahkan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia di tengah gua purba dengan mengibarkan Merah Putih dan menyanyikan Indonesia Raya.

“Momen itu sangat emosional,” kata Adhi.

Teknologi modern kemudian memainkan peran penting dalam mengungkap gambar-gambar purba yang sebagian besar nyaris tak terlihat mata manusia.

Tim peneliti menggunakan teknik digitalisasi Decorrelated Stretch (D-Stretch) untuk memunculkan detail pigmen kuno, sebelum melakukan proses tracing manual selama berminggu-minggu.

Salah satu lukisan paling penting ditemukan di Leang Karampuang, menggambarkan babi liar dan figur manusia dalam sebuah adegan naratif yang diperkirakan berusia minimum 51.200 tahun.

“Tracing manual gambar itu hampir sebulan sambil saya menyelesaikan disertasi doktor,” ujar Adhi yang meraih gelar doktor dari Griffith University.

Sementara itu, temuan yang lebih mengejutkan datang dari gua batu gamping di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Melalui teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA-U-series), tim peneliti menemukan cap tangan purba dengan usia minimum 67.800 tahun — lebih tua dibanding seni cadas di Maros dan bahkan melampaui cap tangan di Spanyol yang selama ini dianggap tertua di dunia.

“Temuan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik manusia modern,” kata Adhi.

Menurutnya, seni cadas tersebut menjadi bukti langsung bahwa manusia telah melakukan penjelajahan laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu.

Penelitian itu juga memperkuat teori migrasi manusia modern menuju Sahul — kawasan Australia dan Papua purba.

“Sangat mungkin pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” ujarnya.

Peneliti Renaud Joannes-Boyau menyebut temuan tersebut sebagai bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul.

Sementara Maxime Aubert mengatakan Sulawesi kini dapat dipandang sebagai salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia.

Peneliti lain, Adam Brumm, mengungkapkan cap tangan di Pulau Muna memiliki bentuk unik menyerupai cakar dengan jari-jari menyempit — simbol yang diduga berkaitan dengan hubungan spiritual antara manusia dan hewan.

“Makna simboliknya memang masih spekulatif, tetapi menunjukkan pemikiran artistik dan simbolik yang sangat matang,” jelasnya.

Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi, mengatakan penelitian ini juga menjadi tonggak penting perkembangan arkeologi berbasis sains material di Indonesia.

Menurutnya, teknologi penanggalan modern memungkinkan penentuan kronologi budaya manusia purba dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi.

Di balik seluruh pencapaian ilmiah tersebut, para peneliti mengingatkan pentingnya menjaga kawasan karst Sulawesi yang menyimpan warisan sejarah manusia yang tak tergantikan.

Sebab di dinding-dinding batu sunyi itu, tersimpan pesan panjang tentang asal-usul manusia, kreativitas, simbol, dan cara manusia purba memaknai hidup sejak puluhan ribu tahun silam.

Bahan tulisan bersumber dari BRIN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *