Merawat Kepercayaan di Dogiyai: Saat Polisi dan Warga Duduk Bersama Mencegah Konflik

Mereka datang dengan pendekatan berbeda—membangun komunikasi, merawat kepercayaan, dan memastikan masyarakat merasa didengar.

Ikonkata-Suasana pertemuan di salah satu kampung di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, terasa hangat. Tidak ada sekat yang kaku antara aparat dan warga. Polisi duduk sejajar dengan tokoh adat dan masyarakat, mendengarkan satu per satu cerita serta keresahan yang selama ini dirasakan.

Kehadiran personel dari  Divisi Profesi dan Pengamanan Polri bersama jajaran Kepolisian Sektor Kamuu bukan sekadar menjalankan fungsi pengawasan. Mereka datang dengan pendekatan berbeda—membangun komunikasi, merawat kepercayaan, dan memastikan masyarakat merasa didengar.

Pertemuan itu mempertemukan berbagai tokoh penting, mulai dari tokoh intelektual Derek Waine, tokoh pemuda Alex Waine, hingga para kepala kampung seperti Yulianus Boby dari Ikebo, Marthen Tebai dari Dikiyowa, dan Ipo Gane dari Ekemanida. Di forum sederhana itu, suara masyarakat menemukan ruangnya.

Sekretaris Biro Provos Divpropam Polri, Prianto Teguh Nugroho, menegaskan bahwa komunikasi menjadi jembatan utama dalam menjaga keamanan. Namun di hadapan warga, pesan itu disampaikan dengan cara yang lebih membumi—bahwa Polisi hadir bukan hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga untuk membantu dan melindungi.

“Kami ingin setiap persoalan diselesaikan dengan komunikasi yang baik, agar tidak berkembang menjadi konflik,” ujarnya.

Di sisi lain, warga pun menyampaikan harapan secara terbuka. Tokoh pemuda, Alex Waine, mengungkapkan bahwa hubungan antara masyarakat dan Polisi masih perlu diperkuat, terutama dalam hal komunikasi di lapangan.

Ia mengingat kembali sebuah peristiwa yang sempat memicu ketegangan saat penemuan jenazah di wilayah tersebut. Menurutnya, situasi sebenarnya bisa lebih cepat mereda jika koordinasi berjalan lebih baik dan tidak ada pihak yang memperkeruh keadaan.

“Kalau komunikasi kuat, kami juga bisa ikut membantu menenangkan situasi,” katanya.

Pengakuan itu tidak dibantah. Justru menjadi bahan refleksi bersama. Polisi merespons dengan komitmen untuk membuka ruang dialog yang lebih luas, melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar objek pengamanan.

Di Papua, peran tokoh adat dan masyarakat memang tidak tergantikan. Mereka adalah penjaga nilai, sekaligus penenang di tengah potensi konflik. Karena itu, pendekatan humanis menjadi kunci—mendekatkan aparat dengan masyarakat melalui rasa saling percaya.

Pertemuan tersebut mungkin sederhana, tanpa seremoni besar. Namun dari percakapan yang terjalin, ada harapan yang tumbuh: bahwa keamanan tidak hanya dibangun dengan kewenangan, tetapi juga dengan kedekatan.

Di Dogiyai, langkah kecil itu sedang dirawat—saat Polisi dan warga memilih duduk bersama, mendengar, dan mencari jalan keluar sebagai satu komunitas.

banner 336x280