Jusuf Kalla: Ukhuwah Harus Melahirkan Kemajuan Ilmu, Teknologi, dan Kemakmuran Umat

Ketua Umum DMI menegaskan persatuan umat Islam tidak cukup berhenti pada keharmonisan, tetapi harus diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan penguatan ekonomi.

Ikonkata-Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla, menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak boleh berhenti pada persatuan dan keharmonisan semata. Menurutnya, ukhuwah harus menjadi fondasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, serta kemakmuran umat.

Hal itu disampaikan Jusuf Kalla saat memberikan keynote speech pada Silaturahmi Nasional Ukhuwah Islamiyah yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia di Gedung B.J. Habibie, Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional, Jakarta, Senin (29/6/2026).

banner 970x250

Dalam pemaparannya, JK menilai kondisi ukhuwah di kalangan umat Islam Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan dua hingga tiga dekade lalu. Menurutnya, perbedaan pandangan dalam persoalan fikih, seperti jumlah rakaat salat tarawih, qunut, maupun bacaan basmalah, tidak lagi menjadi sumber pertentangan yang memecah belah umat.

“Perbedaan itu adalah rahmat. Perbedaan bukan untuk diperdebatkan atau dipertengkarkan, tetapi menjadi kekayaan yang membawa kedamaian,” ujarnya.

Meski demikian, JK mengingatkan bahwa persatuan tidak boleh berhenti sebagai simbol kebersamaan. Ukhuwah, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi kerja nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesejahteraan masyarakat.

Ia mencontohkan kemampuan Iran mempertahankan diri dari tekanan negara-negara besar sebagai salah satu gambaran pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Bangsa yang menguasai ilmu dan teknologi akan memiliki martabat. Ibadah harus berjalan seimbang dengan penguasaan ilmu pengetahuan agar umat memiliki kekuatan dan kehormatan,” katanya.

JK juga mendorong pesantren dan lembaga pendidikan Islam untuk menyeimbangkan pendidikan agama dengan penguasaan ilmu pengetahuan modern. Menurutnya, kemajuan dunia akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kehidupan umat sekaligus menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.

Selain aspek pendidikan, ia menilai organisasi keagamaan perlu memperluas orientasi perjuangannya dengan membangun kemandirian ekonomi umat. Menurut JK, perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi masih perlu ditingkatkan agar umat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu menciptakan kesejahteraan.

“Kita sering mengajarkan zakat, tetapi belum banyak mengajarkan bagaimana agar umat mampu menjadi pembayar zakat,” ujarnya.

Mantan Wakil Presiden RI itu juga mengajak seluruh elemen umat Islam untuk tidak lagi menjadikan perbedaan pandangan dalam penentuan awal Ramadan maupun Idulfitri sebagai sumber perpecahan. Ia mengungkapkan pernah menginisiasi upaya mempertemukan pendekatan hisab dan rukyat bersama tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, meski saat itu belum menghasilkan kesepakatan penuh.

Menutup pidatonya, JK berharap Silaturahmi Nasional Ukhuwah Islamiyah MUI tidak hanya mempererat hubungan antarsesama umat Islam, tetapi juga melahirkan komitmen bersama untuk membangun bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Pertemuan ini bukan hanya untuk berjabat tangan dan berdoa, tetapi juga membangun perilaku, kemampuan, dan upaya agar umat Islam menjadi lebih bermartabat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *