#JejakAno
Di Makassar, orang lebih mengenalnya sebagai Haji Jojon.
Dahulu, saya beberapa kali melihatnya nongkrong dan ngopi di Kedai Phoenam. Datang dengan tenang, senyum, dan bersahaja. Duduk di Meja Bundar, meja khas Phoenam.
Nama Haji Jojon memang beberapa kali naik turun di permukaan. Pernah suatu ketika wajahnya menghiasi hampir seluruh billboard di jalur Makassar. Dari perbatasan Makassar-Maros hingga jalur Gowa-Makassar, wajahnya mudah ditemui.
Lalu muncul pertanyaan yang mungkin ada di kepala banyak orang, siapa gerangan dirinya, Haji Jojon?
Hari ini, di kalangan pebisnis dan sosialita Sulawesi Selatan, namanya kerap disandingkan dengan satu julukan: Crazy Rich Makassar.Julukan ini semakin dikenal ketika ia menghadiahi anak laki-lakinya, Qansa Alrifaat Najmuddin, yang berulang tahun ke-9, sebuah Lamborghini Revuelto. Mobil supermewah itu disebut bernilai sekitar Rp22 hingga Rp25 miliar.
Tetapi cerita tentang Haji Jojon sebenarnya tidak berhenti pada mobil, tambang, atau label Crazy Rich.
Ia lahir dari dunia usaha. Jalan bisnisnya dibangun melalui industri pertambangan. Tidak selalu mulus. Ada masa naik, ada masa turun. Dari sana ia membangun usaha sekaligus jaringan yang kemudian membawanya masuk ke lingkungan pengusaha di Sulawesi.
Di balik kesibukan lainnya sebagai Wakil Ketua KADIN Sulsel, hari ini perhatian Haji Jojon sedikit bergeser. Bukan lagi soal ke kantor dan bisnis tambang. Kali ini perhatiannya fokus ke paddock, sirkuit, kendaraan, dan dunia balap.
Tiga pekan lalu, namanya kemudian muncul kembali- sebagai salah satu sosok yang bersiap menakhodai Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulawesi Selatan.
Di titik ini, perjalanan Haji Jojon semakin menarik untuk masuk dalam tulisan #JejakAno.
Tentu masuk ke dunia otomotif bukan sekadar soal punya uang untuk membeli kendaraan mahal. Otomotif adalah dunia yang juga membutuhkan BBM, ban, logistik, event, pembinaan atlet, dan klub. Semuanya membutuhkan biaya. Dan hampir semua orang yang pernah mengurus olahraga otomotif tahu bahwa persoalan anggaran bukan perkara kecil.
Nah. Di sinilah latar belakang Haji Jojon ikut berbicara.
Haji Jojon datang dari dunia usaha yang membuatnya terbiasa mengurus modal, jaringan, dan keputusan bisnis.Kata lain, ia tidak masuk ke otomotif hanya sebagai penonton. Dia punya kemampuan untuk ikut menanggung beban yang selama ini menjadi salah satu persoalan dalam menggerakkan olahraga otomotif.
Dan paling penting, dia bukan orang baru.
Jangan salah. Haji Jojon bukan orang yang tiba-tiba mengenal dunia otomotif setelah memiliki banyak uang. Pada masa mudanya, ia pernah menjadi pembalap motor di Kolaka bersama PPP Racing Team, saat usianya masih 25 tahun.
Pengalaman itu memang sudah lama berlalu. Tetapi setidaknya menunjukkan bahwa hubungan Jojon dengan dunia balap bukan sesuatu yang baru muncul hari ini.
Dalam organisasi olahraga? Dia juga pernah menjadi Bendahara Umum KONI Sulsel.
Sebagai bendahara tentu bersentuhan dengan urusan anggaran atlet, pembinaan prestasi, manajemen organisasi, dan dinamika klub olahraga. Dunia olahraga, dengan segala persoalannya, bukan ruang yang sepenuhnya asing baginya.
Hal lain?
Ada satu hal lain yang ikut membentuk posisinya hari ini yakni jaringan.
Haji Jojon kini juga dipercaya sebagai Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel.
Selain itu ia memiliki hubungan dengan sejumlah tokoh otomotif nasional, termasuk Ketua Umum IMI Pusat Moreno Suprapto.
Semua itu tentu menjadi modal ketika seorang pengurus daerah ingin membawa kegiatan otomotif Sulawesi Selatan berbicara lebih jauh ke tingkat nasional.
Ada Pola yang Berulang
Kalau melihat sejarah IMI, bukan hal baru ketika organisasi otomotif dipimpin oleh orang yang datang dari dunia usaha, politik, atau balap.
Di tingkat pusat, Bambang Soesatyo atau Bamsoet, yang berlatar belakang pengusaha dan politisi, pernah memimpin IMI periode 2021-2024.
Setelah itu, Moreno Suprapto melanjutkan kepemimpinan IMI. Ia datang dengan latar yang berbeda, sebagai pembalap mobil nasional dan internasional, pernah berkarier dari gokart hingga formula, sekaligus pengusaha.
Di Sulawesi Selatan, pola serupa juga pernah terjadi. Subhan Aksa datang dengan dua latar yang kuat: pengusaha dan pembalap mobil. Setelahnya ada H. Rusdi Masse, hobi balapan, pengusaha sekaligus politisi.
Jadi, kalau Haji Jojon nantinya memimpin IMI Sulsel, maka dia sebenarnya masuk ke pola yang sudah pernah terjadi. Pembalap, pengusaha, politisi.
Dan kadang ketiganya bertemu dalam satu orang, yakni Haji Jojon.
Untuk organisasi seperti IMI, kombinasi itu memang punya alasan praktis.
Otomotif adalah olahraga yang mahal. Kalau organisasi hanya menunggu APBD, ruang geraknya akan terbatas. Event membutuhkan biaya. Atlet membutuhkan pembinaan. Klub membutuhkan dukungan. Kompetisi membutuhkan jaringan.
Jojon Tidak Sendirian
Haji Jojon juga tidak masuk ke IMI dengan ruang kosong. Ada puluhan klub yang menjadi bagian dari ekosistem otomotif Sulawesi Selatan. Dukungan sekitar 33-34 klub, sebagaimana disebut dalam proses pencalonannya, menjadi modal organisasi yang tidak kecil.
Tetapi bukan sekadar hal itu, yang paling penting dan menarik justru cara Haji Jojon mendekati komunitas. Dia terlihat berusaha duduk bersama, mendengar, dan membuka komunikasi dengan klub-klub, mudah bergaul.
Semua unsur itu akan diuji jika benar ia memimpin IMI Sulsel. Sebab memimpin organisasi otomotif tidak cukup hanya dengan kemampuan membayar biaya sebuah event.
Sebuah visi yang dibawanya pun cukup sederhana:
“Bersama untuk Sebuah Prestasi.”
Jika kelak benar ia menjadi nahkoda IMI Sulsel, satu hal yang menarik untuk dilihat bukan berapa banyak uang yang bisa ia keluarkan. Tetapi seberapa jauh ia bisa membawa uang, jaringan, pengalaman, dan komunitas itu bergerak bersama.
Karena pada akhirnya, aspal tidak mengenal julukan, aspal hanya mengenal “gasfull” sebab dalam lintasan yang terlihat adalah siapa yang benar-benar bergerak. Dan yang menggerakkan adalah bukan Superman tetapi “SuperTem” sebagaimana visi “Bersama untuk Sebuah Prestasi”
#JejakAno
“Setiap Wajah Punya Jejak, Setiap Wajah Punya Cerita”










