Pilah Sampah Jadi Kunci Selamatkan Makassar, Pakar Lingkungan Dorong Penegakan Aturan

Menurut Natsar Desi, pengelolaan sampah dengan pola lama yang hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sudah tidak lagi efektif.

Ikonkata – Pemilahan sampah dari sumber dinilai menjadi solusi utama untuk mengatasi persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan di Kota Makassar. Hal tersebut disampaikan Pakar Lingkungan sekaligus Ketua Program Studi Magister Rekayasa Infrastruktur Lingkungan Universitas Fajar (UNIFA), Dr. Ir. Natsar Desi, Sp., M.Si., IPM, yang menegaskan bahwa memilah sampah bukan lagi sekadar imbauan, melainkan kewajiban yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Menurut Natsar Desi, pengelolaan sampah dengan pola lama yang hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sudah tidak lagi efektif. Kondisi TPA yang mengalami kelebihan kapasitas hingga memicu berbagai persoalan lingkungan menjadi bukti perlunya perubahan sistem pengelolaan sampah.

banner 970x250

Ia menjelaskan, kewajiban memilah sampah telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, PP Nomor 81 Tahun 2012, serta Permen LHK Nomor P.75 Tahun 2019. Regulasi tersebut mewajibkan masyarakat memilah sampah menjadi organik, anorganik yang dapat didaur ulang, limbah B3 atau elektronik, serta residu sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular.

Natsar menilai, masih adanya penolakan sebagian masyarakat untuk memilah sampah disebabkan rendahnya literasi lingkungan dan pengalaman buruk akibat sampah yang telah dipilah kembali tercampur saat pengangkutan. Padahal, praktik tersebut dapat menghambat sistem daur ulang, meningkatkan pencemaran, hingga memperbesar emisi gas metana dari TPA.

Ia juga mengingatkan bahwa penerapan prinsip “No Sort, No Collect” memungkinkan petugas kebersihan menolak mengangkut sampah yang tidak dipilah, disertai potensi sanksi administratif sesuai ketentuan pemerintah daerah.

Karena itu, Natsar mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat sekaligus konsisten menegakkan aturan. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya dan tanggung jawab bersama.

“Pemilahan sampah bukan lagi pilihan, tetapi syarat utama untuk menyelamatkan lingkungan dan mencegah krisis ekologis yang semakin besar,” tegasnya.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *