Ikonkata-TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan United States Pacific Air Forces (PACAF) terus memperkuat kemitraan strategis di kawasan Indo-Pasifik melalui rangkaian kerja sama pertahanan udara yang mencakup dialog bilateral hingga latihan teknis bersama.
Komitmen tersebut diwujudkan dalam penyelenggaraan Airman-to-Airman Talks (A2AT) ke-18 yang berlangsung di Honolulu, Hawaii, pada 14–16 Juli 2026. Delegasi TNI AU dipimpin Wakil Asisten Operasi Kasau, Marsma TNI M. Satriyo Utomo, sedangkan pihak PACAF dipimpin Brigadier General Shane Vesely, Chief of Staff Headquarters Pacific Air Forces.
Pertemuan menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang akan menjadi arah penguatan kerja sama kedua angkatan udara. Fokus pembahasan meliputi peningkatan Air Domain Awareness (ADA) melalui pelatihan Mobile Training Team (MTT), optimalisasi latihan bersama dan pendidikan militer, penguatan kemampuan Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR), pengembangan kolaborasi di bidang siber dan antariksa, serta peningkatan dukungan logistik, layanan kesehatan, dan ketahanan pangkalan udara.
Selain agenda pembahasan, delegasi TNI AU juga mengunjungi Hickam Historical Museum, yang menyimpan dokumentasi sejarah Lapangan Terbang Hickam dan serangan udara Jepang pada 7 Desember 1941. Delegasi juga meninjau Bong Air and Space Operations Center, pusat komando udara PACAF di kawasan Pasifik yang menjadi fasilitas utama simulasi operasi udara dan latihan gabungan negara-negara mitra Indo-Pasifik.
Sebagai tindak lanjut kerja sama tersebut, tujuh personel TNI AU mengikuti Explosive Ordnance Disposal (EOD) Subject Matter Exchange (SME) and Field Training Exercise (FTX) yang digelar PACAF di Andersen Air Force Base, Guam, pada 20–24 Juli 2026.
Tim yang dipimpin Dansathar 64 Depohar 60 Letkol Tek Sudarianto mendapatkan pembekalan teori dan praktik mengenai penanganan berbagai ancaman bahan peledak, mulai dari Unexploded Ordnance (UXO), Improvised Explosive Device (IED), hingga penanganan drone atau Unmanned Aircraft System (UAS) yang jatuh.
Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan berbagai peralatan EOD modern, seperti robot penjinak bom, bomb suit, X-ray detector, Hook and Line Kit, serta perangkat pendukung lainnya yang digunakan dalam operasi penanganan bahan peledak.
Melalui kerja sama ini, TNI AU menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan profesionalisme personel, memperkuat interoperabilitas dengan mitra internasional, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi spektrum ancaman pertahanan udara dan keamanan yang terus berkembang di kawasan Indo-Pasifik.










