Kuliah Umum PTIK, Taruna Ikrar : Masa Depan Bangsa Ditentukan Manusia, Bukan AI

Kepala BPOM menegaskan teknologi hanya alat. Kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan, empati, dan integritas menjadi kunci menghadapi tantangan global menuju Indonesia Emas 2045.

Ikonkata-Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, mengingatkan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tidak akan menentukan masa depan bangsa tanpa kualitas manusia yang mampu mengendalikannya.

Pesan itu disampaikan Taruna Ikrar saat memberikan kuliah umum bertajuk Membangun Kepemimpinan Berbasis Neurosains untuk Menghadapi Tantangan Nasional dan Global pada orientasi mahasiswa Program Magister STIK Lemdiklat Polri Angkatan XVI Tahun Akademik 2026/2027 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta, Senin (6/7/2026).

banner 970x250

Menurut Taruna, dunia tengah menghadapi perubahan besar, mulai dari pergeseran geopolitik, bonus demografi, krisis iklim, hingga pesatnya perkembangan AI. Kondisi tersebut membutuhkan pemimpin yang adaptif, berpikir ilmiah, dan tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara maju pada 2045 jika mampu menyiapkan sumber daya manusia yang visioner, inovatif, dan mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan serta teknologi dalam setiap pengambilan keputusan.

Dalam kuliahnya, Taruna memperkenalkan konsep neuroleadership, yakni pendekatan kepemimpinan yang menggabungkan neurosains dengan praktik kepemimpinan modern. Menurutnya, ada empat prinsip utama yang harus dimiliki seorang pemimpin, yaitu kemampuan mengendalikan diri (self-regulation), kesadaran penuh (mindfulness), kepemimpinan berbasis empati (empathy-based leadership), dan pengambilan keputusan berdasarkan data serta logika (decision based on logic).

“AI dapat mempercepat cara kita bekerja, tetapi neurosains mengingatkan bagaimana manusia seharusnya berpikir,” ujar Taruna.

Ia menegaskan, AI harus dipandang sebagai mitra untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, bukan sebagai pengganti manusia. Teknologi mampu mengolah data dan mendeteksi risiko dengan cepat, tetapi keputusan strategis tetap membutuhkan integritas, empati, pengalaman, dan pertimbangan moral manusia.

Di lingkungan BPOM, sinergi antara AI dan neurosains dinilai akan memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan melalui analisis data yang lebih akurat, deteksi dini risiko, serta pengambilan keputusan yang lebih presisi.

Menutup kuliah umum, Taruna menekankan bahwa transformasi organisasi selalu berawal dari transformasi diri. Menurutnya, kepemimpinan masa depan harus dibangun di atas karakter yang kuat, kecerdasan emosional, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan.

“Boleh saja teknologi berkembang melampaui imajinasi manusia. Tetapi pada akhirnya, manusialah yang menentukan ke mana arah teknologi itu membawa bangsa,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *