Ikonkata-Badan Pengawas Obat dan Makanan bersama Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sepakat memperkuat kolaborasi dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis kesehatan (health tourism), khususnya wellness tourism dan medical tourism.
Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi antara Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dengan Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Dalam pertemuan itu, kedua pihak menilai wisata kesehatan memiliki prospek besar sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Secara global, nilai industri wellness tourism diperkirakan mencapai US$1,08 triliun pada 2026 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$2,4 triliun pada 2035. Sementara pasar medical tourism diperkirakan tumbuh dari US$38,6 miliar menjadi US$126,2 miliar pada periode yang sama.
Taruna Ikrar menjelaskan, BPOM mendukung pengembangan layanan medical tourism melalui pemberian akses khusus terhadap obat-obatan tertentu menggunakan mekanisme Special Access Scheme (SAS), terutama untuk rumah sakit bertaraf internasional.
Sejak Juni 2025, BPOM telah menerbitkan 19 persetujuan SAS untuk berbagai jenis obat, termasuk obat antikanker dan imunoglobulin yang digunakan dalam pelayanan kesehatan, khususnya di Bali.
“BPOM mendukung penuh pengembangan medical tourism Indonesia. Namun, seluruh proses tetap dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian, pengawasan ketat, dan jaminan mutu agar keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama,” ujar Taruna.
Selain mendukung layanan medis modern, BPOM juga mendorong pengembangan desa wisata sebagai pusat wellness tourism berbasis kekayaan hayati Indonesia.
Menurut Taruna, Indonesia memiliki sekitar 6.261 desa wisata yang terdiri atas 36 desa mandiri, 330 desa maju, 1.015 desa berkembang, dan 4.880 desa rintisan.
Ia menilai desa-desa tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai sentra produksi jamu, herbal, dan pangan lokal yang aman, berkualitas, serta bernilai ekonomi tinggi.
“Desa wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga dapat menjadi pusat pengembangan produk jamu, herbal, dan pangan lokal yang aman serta bernilai ekonomi tinggi. BPOM siap melakukan pendampingan agar produk-produk tersebut memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyambut positif sinergi yang dibangun bersama BPOM.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi destinasi wisata kesehatan kelas dunia dengan memadukan warisan jamu tradisional, layanan kesehatan modern, serta kekayaan alam dan budaya.
“Kita memiliki modal kuat untuk memimpin pasar ini. Indonesia dapat memadukan keunggulan jamu tradisional warisan leluhur dengan fasilitas medis modern yang didukung keindahan alam nusantara,” ujar Widiyanti.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas sejumlah program kolaborasi, di antaranya penyelenggaraan Wellness Festival (Wellfest) 2026 sebagai ajang promosi gaya hidup sehat, produk kesehatan, kosmetik, pangan olahan, serta pemberdayaan UMKM.
Selain itu, BPOM akan memperluas pendampingan bagi UMKM herbal di desa wisata, memperkuat program Desa Pangan Aman, serta mengembangkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Keamanan Pangan di berbagai destinasi wisata.
Taruna berharap sinergi antara BPOM dan Kementerian Pariwisata dapat menghasilkan program konkret yang berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing Indonesia sebagai destinasi wisata kesehatan dunia.
“Kita harus melaporkan progres dan hasilnya kepada Presiden. Karena banyak sekali titik temu antara program BPOM dan Kementerian Pariwisata yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
















