Ikonkata-Sebuah kontainer berisi produk farmasi buatan Indonesia kembali diberangkatkan menuju Eropa. Namun pengiriman kali ini memiliki makna yang lebih besar. Kontainer tersebut merupakan pengiriman ekspor ke-150 PT Ferron Par Pharmaceutical (PT Ferron), sebuah pencapaian yang menandai semakin kuatnya posisi industri farmasi nasional di pasar internasional.
Pelepasan ekspor dilakukan langsung oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, di fasilitas produksi PT Ferron di Cikarang, Kamis (4/6/2026).
Bagi BPOM, keberhasilan tersebut bukan sekadar angka. Pengiriman ke-150 menjadi simbol bahwa produk farmasi Indonesia mampu memenuhi standar mutu dan regulasi yang diterapkan pasar Eropa, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pasar farmasi paling ketat di dunia.
“Pengiriman kontainer ini menjadi bukti kemampuan industri farmasi nasional memenuhi standar regulasi dan mutu yang dipersyaratkan pasar Eropa, salah satu pasar farmasi dengan persyaratan paling ketat di dunia,” ujar Taruna Ikrar.
Keberhasilan itu semakin diperkuat dengan raihan sertifikat European Union Good Manufacturing Practice (EU-GMP) yang telah dikantongi PT Ferron. Sertifikasi tersebut menjadi salah satu syarat penting bagi industri farmasi untuk memasuki pasar Uni Eropa.
Menurut Taruna, pencapaian tersebut tidak terlepas dari konsistensi industri dalam menerapkan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) serta sinergi yang terbangun antara industri dan regulator.
Saat ini Indonesia memiliki sedikitnya 272 industri farmasi dan lebih dari 3.000 pedagang besar farmasi. Di tengah pertumbuhan sektor tersebut, BPOM terus berupaya mempercepat layanan perizinan tanpa mengurangi standar keamanan dan mutu produk.
Selain itu, penguatan pengawasan juga terus dilakukan melalui regulasi, pengawasan sebelum dan sesudah produk beredar, hingga inspeksi rutin ke fasilitas produksi untuk memastikan standar nasional maupun internasional diterapkan secara konsisten.
Peluang ekspor produk farmasi Indonesia juga semakin terbuka setelah BPOM memperoleh pengakuan WHO-Listed Authorities (WLA) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Status tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan kepercayaan global terhadap kualitas produk farmasi Indonesia.
Sementara itu, Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceutical, Benny Sutisna Suwarno, mengatakan kontainer ke-150 yang diberangkatkan kali ini berisi produk berteknologi tinggi Metformin Sustained Release (SR) yang akan dipasarkan ke Inggris, Belanda, dan Polandia.
Menurut Benny, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari disiplin mutu yang dijaga secara konsisten selama bertahun-tahun serta dukungan regulator dalam membina industri farmasi nasional.
Ia juga menegaskan pentingnya sertifikasi dalam membangun daya saing industri. PT Ferron tercatat sebagai salah satu dari lima perusahaan farmasi pertama yang memperoleh sertifikat CPOB dari BPOM. Selain itu, fasilitas produksinya di Cikarang juga telah mengantongi sertifikasi United Kingdom-Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (UK-MHRA) dan EU-GMP.
Bagi pemerintah, keberhasilan ekspor ini menjadi bagian dari agenda yang lebih besar, yakni memperkuat ketahanan kefarmasian nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri kesehatan Indonesia di pasar global.
“Untuk mewujudkan hal tersebut, BPOM senantiasa hadir sebagai regulatory partner yang kredibel, adaptif, dan responsif dalam mendukung pengembangan industri dan kemandirian farmasi nasional,” kata Taruna.
Di tengah persaingan industri kesehatan global yang semakin ketat, pengiriman kontainer ke-150 menuju Eropa menjadi penanda bahwa produk farmasi Indonesia tidak lagi hanya berorientasi pada pasar domestik, tetapi mulai menempatkan diri sebagai pemain yang diperhitungkan di tingkat internasional.















