Ikonkata-Banyak kota besar dunia memiliki cara tersendiri merayakan keberagaman. Di Singapura, kawasan Marina Bay sering menjadi ruang perayaan budaya lintas komunitas. Di Seoul, festival cahaya menghadirkan identitas kota yang inklusif. Sementara di Jakarta, semangat serupa hadir melalui Festival Illumination of Jakarta: Glow of Peace yang digelar dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era.
Sejumlah titik strategis ibu kota dihiasi instalasi cahaya dan ornamen bernuansa Waisak. Salah satu yang paling menyita perhatian publik berada di kawasan Bundaran HI, ikon Jakarta yang setiap hari menjadi ruang pertemuan ribuan warga dan wisatawan.
Bagi sebagian orang, dekorasi tersebut mungkin hanya menjadi latar foto. Namun di balik cahaya yang menghiasi jantung ibu kota, tersimpan pesan yang lebih besar tentang keberagaman, toleransi, dan kehidupan bersama di tengah kota yang dihuni berbagai latar belakang budaya.
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, menilai langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta patut diapresiasi karena mampu mengubah ruang publik menjadi sarana memperkenalkan nilai-nilai kebhinekaan kepada masyarakat luas.
Menurutnya, perayaan keagamaan yang dihadirkan secara terbuka di ruang publik tidak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga memperkuat karakter Jakarta sebagai kota yang inklusif dan menghargai keberagaman.
“Ini bukan hanya tentang perayaan Waisak, tetapi juga tentang bagaimana Jakarta menunjukkan wajahnya sebagai rumah bagi berbagai budaya dan keyakinan,” ujarnya, Senin (1/6).
Tema Waisak tahun ini, Dharma Menjaga Perdamaian Dunia, dinilai relevan dengan berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat modern. Di tengah dinamika ekonomi, sosial, dan perkembangan kota yang begitu cepat, pesan perdamaian menjadi semakin penting untuk dirawat bersama.
Kevin mengajak seluruh warga Jakarta untuk menjadikan perayaan Waisak sebagai momentum memperkuat harmoni sosial, tidak hanya bagi umat Buddha tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Lebih jauh, ia melihat festival seperti Glow of Peace memiliki dampak yang melampaui aspek budaya.
Pengalaman berbagai kota global menunjukkan bahwa festival berbasis budaya mampu meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, mendorong kunjungan wisatawan, sekaligus memperkuat identitas kota di mata dunia.
Jakarta, kata dia, memiliki peluang yang sama.
Ketika ruang publik hidup dengan berbagai atraksi budaya dan kegiatan komunitas, kota tidak hanya menjadi tempat bekerja dan beraktivitas, tetapi juga menjadi ruang pengalaman yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Jika dilakukan secara konsisten, kegiatan seperti ini dapat menjadi salah satu identitas Jakarta sebagai kota global,” katanya.










