Ikonkata-Sebuah lukisan cadas prasejarah di Gua Metanduno resmi tercatat dalam Guinness World Records sebagai seni non-figuratif tertua di dunia, memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat awal peradaban dan ekspresi artistik manusia modern.
Lukisan berupa cap tangan menyerupai cakar itu diperkirakan berusia minimal 67.800 tahun dan menjadi salah satu temuan arkeologi paling penting di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir.
Penemuan tersebut juga telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature, yang memperkuat validitas ilmiah atas usia dan signifikansi sejarah lukisan tersebut.
Temuan di Pulau Muna dinilai membuka kembali perdebatan lama mengenai asal-usul seni manusia purba. Selama bertahun-tahun, banyak peneliti meyakini seni cadas berkembang pertama kali di Eropa. Namun, serangkaian penemuan di Indonesia dalam satu dekade terakhir mulai mengubah peta sejarah seni dunia.
Penelitian gambar cadas di Pulau Muna sendiri telah berlangsung sejak sekitar 40 tahun lalu oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Berbagai penelitian mengungkap keberadaan imaji figuratif dan non-figuratif di kawasan karst tersebut, mulai dari figur manusia, hewan, matahari, hingga perahu yang dilukis menggunakan pigmen berwarna coklat.
Gambar-gambar tersebut diyakini merepresentasikan kehidupan manusia prasejarah, termasuk aktivitas berburu dan pelayaran.
Salah satu perkembangan penting muncul setelah ditemukannya enam gambar tangan negatif di Gua Pominsa pada 2015 dalam kegiatan dokumentasi Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Penemuan itu memperluas pemahaman mengenai persebaran seni cadas kuno di kawasan Sulawesi.
Para peneliti menilai seni cadas di Nusantara jauh lebih tua dibanding asumsi lama yang mengaitkannya dengan budaya Austronesia pada masa neolitik.
Sebelumnya, publikasi ilmiah internasional pada 2014 juga mengungkap keberadaan lukisan tangan dan figur hewan berusia sekitar 40 ribu tahun di kawasan karst Karst Maros. Temuan tersebut kala itu mengejutkan dunia arkeologi karena menunjukkan bahwa ekspresi artistik manusia purba berkembang secara paralel di luar Eropa.
Kini, penemuan di Gua Metanduno membawa Indonesia kembali menjadi sorotan dunia ilmiah internasional.
Bagi para arkeolog, lukisan tangan purba di Pulau Muna bukan hanya karya seni, melainkan jejak awal kemampuan simbolik manusia modern — sebuah tanda bahwa ribuan tahun lalu, manusia di Nusantara telah memiliki cara berpikir abstrak, identitas budaya, dan ekspresi spiritual yang kompleks.








