Ikonkata – Dana Moneter Internasional (IMF) menyoroti perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan melandai pada tahun 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, tekanan inflasi yang masih berlangsung, serta gangguan rantai pasok di sejumlah kawasan dunia.
Dalam laporan terbarunya, IMF menyebut pertumbuhan ekonomi global berada pada kisaran sekitar 3 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya. Perlambatan ini dinilai mencerminkan dampak akumulatif dari konflik internasional, tingginya suku bunga di sejumlah negara maju, serta melemahnya permintaan global.
Ketidakpastian Global Jadi Faktor Utama
IMF menegaskan bahwa risiko geopolitik masih menjadi faktor dominan yang menekan stabilitas ekonomi dunia. Ketegangan di beberapa kawasan strategis serta fragmentasi perdagangan global turut memperlambat arus investasi dan ekspor antarnegara.
Selain itu, kebijakan moneter ketat di negara maju untuk menekan inflasi juga berdampak pada terbatasnya likuiditas global, sehingga mempengaruhi pertumbuhan di negara berkembang.
Direktur Departemen Riset Ekonomi IMF Pierre-Olivier Gourinchas, dalam keterangannya menyampaikan bahwa dunia kini berada dalam fase pemulihan yang tidak merata. “Ekonomi global menunjukkan ketahanan, namun laju pertumbuhannya melambat akibat kombinasi tekanan inflasi, suku bunga tinggi, dan ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa negara-negara perlu memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi untuk menghindari fragmentasi yang lebih dalam di sistem perdagangan global.
“Kerja sama internasional menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan yang inklusif,” tambahnya.
IMF juga menyoroti bahwa negara berkembang menghadapi tekanan yang lebih besar, terutama akibat beban utang, fluktuasi nilai tukar, serta keterbatasan ruang fiskal. Kondisi ini berpotensi menghambat percepatan pemulihan ekonomi di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Dalam laporan tersebut, IMF merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain penguatan disiplin fiskal, reformasi struktural, serta percepatan transformasi digital untuk meningkatkan produktivitas ekonomi.
Lembaga itu juga menekankan pentingnya stabilitas harga dan pengendalian inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dengan berbagai tantangan tersebut, IMF mengingatkan bahwa prospek ekonomi global masih rentan terhadap guncangan lanjutan, sehingga diperlukan kebijakan yang adaptif dan terkoordinasi secara global.
















