Ikonkata — Pemerintah Kabupaten Maros mulai memperkuat strategi adaptasi sektor pertanian untuk menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan dapat memengaruhi produktivitas lahan, khususnya pada sawah tadah hujan.
Melalui Dinas Pertanian, pemerintah daerah memfokuskan intervensi pada penguatan sistem pengairan serta penyesuaian pola tanam. Tercatat, luas sawah tadah hujan di Maros mencapai 10.264,24 hektare yang tersebar di berbagai kecamatan dan menjadi prioritas penanganan saat musim kemarau.
Sebagai langkah awal, ratusan unit pompa air telah disiagakan di tingkat kelompok tani. Hingga kini, sebanyak 356 unit pompa telah dimanfaatkan untuk membantu distribusi air ke lahan yang mulai mengalami keterbatasan pasokan. Tidak hanya itu, Pemkab Maros juga mengajukan tambahan 108 unit pompa ke Kementerian Pertanian guna memperkuat kapasitas mitigasi.
Upaya efisiensi juga dilakukan melalui program listrik masuk sawah. Program ini dirancang untuk mendukung operasional pompa air agar lebih optimal, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan irigasi teknis.
Di sisi lain, pendekatan non-infrastruktur turut diperkuat. Petani didorong menyesuaikan kalender tanam dan memilih varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Pemerintah juga mengarahkan pemanfaatan sumber air alternatif seperti embung, bendungan, dan waduk sebagai cadangan selama periode minim curah hujan.
Untuk jangka menengah, Pemkab Maros mengusulkan pembangunan serta rehabilitasi infrastruktur pengairan di 74 titik rawan kekeringan. Program ini mencakup pengembangan irigasi perpompaan, perpipaan, hingga pembangunan embung dan dam parit di sejumlah kecamatan, termasuk Bontoa, Maros Baru, dan Marusu.
Selain itu, pola tanam serempak kembali didorong guna meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus menekan risiko serangan hama. Dalam kondisi tertentu, petani juga dianjurkan melakukan diversifikasi tanaman dengan beralih ke komoditas palawija yang lebih adaptif terhadap keterbatasan air.
Berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, kombinasi langkah teknis dan pola tanam tersebut terbukti mampu menekan risiko gagal panen dan menjaga produktivitas di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Pemkab Maros menilai, strategi ini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas produksi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.
















