Ikonkata– Bagi Warga Luwu Timur yang menjalani perawatan di Makassar, kini keluarga pasien tak perlu lagi khawatir. Meskipun jauh dari kampung , Pemerintah Kabupaten Luwu Timur kini telah menghadirkan program “Rumah Singgah”, warga kini memiliki tempat bernaung yang layak dan gratis selama mendampingi keluarga berobat di Makassar.
Di bawah kepemimpinan Irwan Bachri Syam bersama Wakil Bupati Puspawati Husler program ini menjadi wujud nyata pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi. Rumah singgah tersebut berlokasi di kawasan Tamalanrea Indah, tidak jauh dari RSUP Wahidi Sudirohusodo, salah satu rumah sakit rujukan utama di Indonesia Timur.
Bagi banyak keluarga pasien, keberadaan rumah singgah ini bukan sekadar fasilitas, melainkan jawaban atas kecemasan yang selama ini mereka rasakan.
Jumati, warga Kecamatan Wasuponda, mengaku sempat kebingungan saat harus mendampingi mertuanya yang dirujuk dari Sorowako ke Makassar. Tanpa sanak saudara di kota, ia nyaris tak tahu harus tinggal di mana.
“Awalnya kami bingung karena tidak punya tempat tinggal. Tapi kami dapat kabar ada rumah singgah dari pemerintah daerah,” ujar Jumati.
Sejak itu, Jumati dan keluarganya bisa tinggal dengan tenang. Fasilitas yang tersedia pun cukup lengkap—mulai dari tempat tidur, kamar mandi, hingga perlengkapan memasak. Semuanya dapat digunakan tanpa biaya.
Cerita serupa datang dari Matriel Sanco’o (66), warga Desa Tampinna, Kecamatan Angkona. Sudah dua minggu ia menetap di rumah singgah untuk mendampingi anaknya yang akan menjalani operasi.
“Selama di sini, kami sangat terbantu. Semua fasilitas ada, dan yang paling penting gratis. Kami tidak lagi terbebani biaya tempat tinggal,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Matriel bahkan sempat bertemu langsung dengan Bupati Luwu Timur dan menyampaikan kondisi anaknya yang telah beberapa kali menjalani operasi. Ia mengaku bersyukur karena sejak pengobatan di daerah hingga dirujuk ke Makassar, biaya yang ditanggung pemerintah sangat meringankan.
Rasa aman juga dirasakan Josua, anak Matriel, yang ikut mendampingi proses pengobatan adiknya. Baginya, rumah singgah bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga ruang untuk menguatkan keluarga di tengah masa sulit.
“Selama di Makassar kami difasilitasi tanpa biaya. Fasilitasnya lengkap, ada dapur, AC, sampai kamar mandi. Harapan kami program ini terus berlanjut,” katanya.
Sementara itu, Plt Direktur RSUD I Lagaligo, dr. Irfan, menjelaskan bahwa layanan rumah singgah mulai beroperasi sejak 1 April 2026. Saat ini tersedia tiga kamar hunian yang bisa digunakan oleh keluarga pasien rujukan.
“Ke depan akan kami tambah sesuai kebutuhan. Selama pasien masih dirawat dan kamar tersedia, keluarga bisa tetap tinggal di rumah singgah,” jelasnya.
Ia menambahkan, prioritas diberikan kepada pasien rujukan asal Luwu Timur, dengan masa tinggal yang fleksibel menyesuaikan proses pengobatan.
Program rumah singgah ini menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang menghadirkan rasa tenang dan kepastian bagi keluarga pasien. Di kota besar yang sering terasa asing, kehadiran tempat sederhana ini justru menjadi rumah kedua bagi mereka yang sedang berjuang. (Red).









