Luwu Timur Dorong Pembiayaan Hijau Kakao, Gandeng BPDLH dan Mars Symbioscience

Produksi kakao nasional berada pada kisaran 600 ribu hingga 700 ribu ton per tahun, dengan sentra utama di Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah

Ikonkata-Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mempertegas komitmennya dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di sektor kehutanan dan perkebunan, khususnya komoditas kakao. Langkah ini ditandai dengan kehadiran Sekretaris Daerah Luwu Timur, Ramadhan Pirade, yang mewakili Bupati dalam penandatanganan kerja sama antara Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan dan PT. Mars Symbioscience  bersama sejumlah mitra.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor BPDLH, Gedung JB Tower, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026), turut dihadiri sejumlah pejabat pusat dan daerah, di antaranya Dirjen Perhutanan Sosial, Direktur Utama BPDLH, serta perwakilan Kementerian Keuangan dan pemerintah provinsi.

Kerja sama ini difokuskan pada skema pembiayaan dana bergulir untuk mendukung usaha kehutanan berbasis masyarakat, terutama bagi kelompok tani kakao di Kabupaten Luwu Timur. Program tersebut bertujuan memperluas akses pembiayaan hijau sekaligus mendorong penerapan praktik rantai pasok kakao berkelanjutan di sekitar kawasan hutan.

Sekda Luwu Timur, Ramadhan Pirade, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi tersebut. Menurutnya, kerja sama ini menjadi peluang strategis dalam meningkatkan kapasitas petani sekaligus memperkuat daya saing kakao daerah.

“Ini adalah peluang besar bagi petani kakao kita untuk memperoleh akses pembiayaan yang lebih mudah, disertai pendampingan guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil,” ujarnya.

Ia menambahkan, kemitraan dengan sektor swasta menjadi kunci penting dalam pengembangan kakao berkelanjutan. Keterlibatan PT Mars Symbioscience dinilai tidak hanya menghadirkan dukungan teknis, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih pasti bagi petani.

PT Mars Symbioscience sendiri merupakan bagian dari perusahaan global Mars Incorported  yang dikenal sebagai salah satu pemain utama industri cokelat dunia. Perusahaan ini memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan, termasuk program peningkatan kesejahteraan petani kakao melalui praktik pertanian ramah lingkungan, transparansi rantai pasok, dan penguatan kapasitas petani di berbagai negara produsen.

Di tingkat nasional, Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Produksi kakao nasional berada pada kisaran 600 ribu hingga 700 ribu ton per tahun, dengan sentra utama di Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Dari sisi ekonomi, nilai ekspor kakao dan produk turunannya mencapai sekitar USD 1,2 hingga 1,5 miliar per tahun, didominasi oleh produk olahan seperti cocoa butter, bubuk kakao, dan cokelat olahan.

Bagi petani di Luwu Timur, program ini membawa sejumlah keuntungan nyata. Selain akses pembiayaan yang lebih mudah melalui skema dana bergulir, petani juga akan mendapatkan pendampingan teknis untuk meningkatkan produktivitas kebun, perbaikan kualitas biji kakao, serta penerapan praktik agroforestry yang menjaga keseimbangan ekosistem. Tak kalah penting, adanya kemitraan dengan perusahaan global membuka peluang kepastian harga dan pasar yang lebih stabil.

Ramadhan menegaskan, pemerintah daerah berharap program ini dapat menjadi model pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat.

“Kami berharap program ini berjalan optimal di Luwu Timur dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di kawasan hutan,” katanya. (***/red).

banner 336x280