Ikonkata– Wakil Menteri Transmigrasi RI, H. Viva Yoga Mauladi menerima kunjungan Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam di kantor pusat Kementerian Transmigrasi, Jakarta Selatan, Kamis (5/3/2026). Pada kesempatan tersebut Wamen Viva Yoga antusias menyimak pemaparan Irwan tentang program ketahanan Pangan di daerahnya serta upayanya dalam melibatkan transmigran yang banyak menyebar di Lutim. Dari pemaparan tersebut, Viva tertarik untuk berkunjung ke Luwu Timur.
Menurutnya Kementerian Transmigrasi berencana tinjau lokasi Mahalona, salah satu dari 45 Kawasan Ekonomi Transmigrasi Terpadu (KETT) nasiona. Wilayah Mahalona (atau dikenal sebagai Mahalona Raya/Aru Mahalona) adalah desa dan kawasan transmigrasi yang terletak di Kecamatan Towuti Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayah ini berjarak sekitar 70 km dari ibu kota kabupaten, Malili, dan dikenal sebagai pusat pertanian merica serta kawasan pertumbuhan ekonomi baru
Seperti diketahui dari 158 kawasan transmigrasi se Indonesia, hanya 5 yang dicanangkan dipersiapkan untuk menjadi Kawasan Ekonomi Transmigrasi Terpadu dan salah satunya adalah Mahalona Luwu Timur.
“Kawasan ini masuk dalam 154 kawasan prioritas Kementrans”, ujar Viva.
Untuk meningkatkan potensi pertanian dan kehidupan transmigran, Kementerian ini telah menganggarkan sesuai kebutuhan yang diperlukan. Dalam TA 2025, Luwu Timur mendapat bantuan sebesar Rp11,3 miliar.
“Untuk bantuan TA 2026 masih dalam pembahasan”, ujar mantan Anggota Komisi IV DPR dua periode itu.
Sementara itu Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam mengungkap banyak potensi yang bisa dikembangkan di Mahalona seperti tanaman pangan, lada, dan buah naga. Sebagai kabupaten terluas kedua di Provinsi Sulawesi Selatan, Luwu Timur diberi amanat untuk melakukan cetak sawah seluas 1.000 Ha.
“Potensinya bisa mencapai 20.000 Ha”, ungkap Irawan Bachri.
Dia juga menjelaskan perkembangan desa transmigrasi di Luwu Timur, meliputi infrastruktur jalan, sekolah, dan penguatan ketahanan pangan berbasis padi.Sehingga dukungan dari pemerintah pusat sangat krusial untuk mempercepat transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Selatan.
”Konektivitas antardesa transmigrasi adalah kunci. Jika jalan mantap, akses bagi anak sekolah lebih mudah dan biaya angkut hasil panen padi petani bisa ditekan seminimal mungkin,” ujar Irwan.










