Ikonkata-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian. Sejumlah titik panas dan titik api masih terdeteksi di berbagai wilayah, sementara pemerintah terus memperkuat upaya pemadaman dan pencegahan meluasnya kebakaran.
Salah satu langkah yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memaksimalkan potensi hujan yang teridentifikasi di sejumlah wilayah Kalbar.
Pada Selasa (25/8/2026), Satuan Tugas Udara bersama BNPB melaksanakan dua sorti OMC dengan menyebarkan total 2.000 kilogram bahan semai berupa NaCl ke wilayah Bengkayang, Landak, dan Sanggau.
Penyemaian dilakukan untuk memperbesar peluang terbentuknya hujan sehingga dapat membantu membasahi wilayah terdampak dan mempercepat pemadaman titik api maupun titik panas.
Operasi serupa kembali dilakukan pada Rabu (26/8/2026), dengan satu sorti yang menyasar wilayah Bengkayang dan Sambas.
2.610 Titik Panas Terdeteksi
Pos Komando Penanganan Bencana Asap Kalbar mencatat terdapat lebih dari 2.610 titik panas yang teridentifikasi pada Selasa (25/8).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 86 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi, 2.447 titik kategori menengah, dan 77 titik kategori rendah.
Sementara titik yang masih terindikasi terdapat api tercatat sebanyak 64 titik.
BNPB meminta Posko Penanganan Bencana Asap Kalbar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman lanjutan pada periode 26 Agustus hingga 1 September 2026.
BMKG sendiri memperkirakan peluang hujan dengan intensitas ringan di sebagian wilayah Kalbar pada periode tersebut. Kondisi ini menjadi peluang yang dimanfaatkan pemerintah melalui operasi modifikasi cuaca.
Ketapang hingga Kubu Raya Jadi Prioritas
Penanganan karhutla diprioritaskan di sejumlah wilayah yang dinilai memiliki tingkat ancaman tinggi.
Wilayah prioritas tinggi meliputi Ketapang, Kubu Raya, Melawi, dan Kayong Utara. Sementara prioritas sedang mencakup Sintang, Sambas, Sekadau, Landak, dan Bengkayang.
Luas lahan terbakar di Kalbar sejak awal tahun hingga Juni 2026 tercatat mencapai 38.310,89 hektare.
Dampak karhutla juga mulai terlihat dari kualitas udara di sejumlah wilayah. Pemantauan menunjukkan kualitas udara harian di Jongkat dan Sungai Tebelian berada pada kategori tidak sehat, sementara Sungai Raya berada pada kategori sangat tidak sehat.
Water Bombing hingga 2.700 Personel Dikerahkan
Selain memanfaatkan peluang hujan melalui OMC, Satgas Udara juga mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing sekaligus patroli udara.
Di darat, lebih dari 2.700 personel dari berbagai unsur dikerahkan untuk menangani titik api dan titik panas.
Pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat menggunakan pesawat Cassa TNI AU yang beroperasi dari Lanud Supadio, Pontianak. Operasi tersebut dilakukan melalui sinergi BNPB bersama Kementerian Pertahanan, BMKG, dan TNI AU.
Kombinasi modifikasi cuaca, pemadaman udara, patroli, serta operasi darat tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menekan karhutla sekaligus mencegah api meluas di tengah kondisi cuaca yang masih berpotensi mendukung pertumbuhan titik panas.










