ikonkata– Sejumlah event digelar oleh BPOM pada usianya yang ke 25 tahun dalam melakukan pengawasan dan menjaga kualitas obat dan makanan di Indonesia. Salah satunya yang berlangsung pada akhir bulan Januari 2026 yakni “WLA Extravaganza: The Power of Influence” . Kegiatan ini menjadi menandai pengakuan global untuk sistem regulatori Indonesia, melalui penetapan BPOM sebagai WHO Listed Authority (WLA) untuk vaksin.
Kegiatan dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Nihayatul Wafiroh, Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, para Kepala BPOM dari masa ke masa, serta Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan sekaligus Pelaksana Tugas Kepala BPOM Periode 2023–2024 L. Rizka Andalucia. Hadir pula perwakilan lembaga internasional, antara lain Country Director Asian Development Bank (ADB) Bobur Alimov, National Professional Officer World Health Organization (WHO) Liyana Rakinatutia, Associate Professor of Ophthalmology Harvard Medical School Joseph F. Arboleda-Velasquez, M.D., Ph.D., serta Assistant Professor Vanke School of Public Health Tsinghua University Dr. Li Guanqiao, bersama para pemangku kepentingan lintas sektor, akademisi, industri farmasi, dan keluarga besar BPOM.
Dalam sambutannya, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa peringatan 25 tahun BPOM beriringan dengan capaian strategis berupa pengakuan internasional atas ketangguhan sistem regulatori nasional. “Momentum ini menjadi sangat bermakna karena dua capaian besar bertemu dalam satu waktu. Perjalanan seperempat abad BPOM dalam membangun dan menjaga kepercayaan publik, serta pengakuan global melalui penetapan BPOM sebagai WHO Listed Authority untuk vaksin,” ujar Taruna Ikrar.
Menurutnya, pengakuan tersebut tidak dicapai dalam waktu singkat. Penguatan sistem regulatori dibangun melalui konsistensi kebijakan, penguatan sumber daya manusia, tata kelola yang transparan, serta komitmen untuk terus berbenah. Prinsip menjulang, membumi, dan mengakar menjadi landasan BPOM dalam menjaga keseimbangan antara standar global dan perlindungan nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Bobur Alimov yang mewakili ADB menyampaikan apresiasi atas pencapaian 25 tahun BPOM dalam menjaga mutu, keamanan, dan efektivitas produk kesehatan. ADB menilai capaian WLA sebagai tonggak penting dalam kredibilitas regulatori Indonesia di tingkat global.
Penetapan BPOM sebagai WLA mencerminkan kepercayaan dunia terhadap sistem regulatori Indonesia yang dinilai setara dengan standar internasional dan dibangun melalui kolaborasi lintas sektor serta lintas generasi. Capaian ini sejalan dengan tema The Power of Influence, yang menekankan pentingnya keteladanan, konsistensi, dan kepercayaan sebagai sumber pengaruh. “Penetapan BPOM sebagai WLA merupakan wujud kepercayaan global bahwa sistem regulatori Indonesia robust, transparan, dan setara dengan standar internasional,” tegasnya.
WHO secara resmi menetapkan status BPOM sebagai WLA untuk fungsi vaksin pada Desember 2025. Dengan capaian tersebut, Indonesia tercatat sebagai negara berkembang pertama yang meraih status WLA, di antara 38 negara maju yang telah lebih dulu memperoleh status tersebut. Status ini menempatkan BPOM pada posisi yang semakin strategis dalam ekosistem vaksin global.
Rangkaian kegiatan WLA Extravaganza diisi dengan pemberian penghargaan kepada tokoh masyarakat, pimpinan BPOM dari masa ke masa, serta pimpinan dan unit kerja yang berperan dalam pencapaian status WLA. Penghargaan diberikan dalam beberapa kategori yang menggambarkan peran masing-masing tokoh pada 9 fungsi regulatori yang dinilai WHO dalam proses menuju WLA ini, yaitu tim pada fungsi sistem regulatori, registrasi dan pemasaran, vigilance, pengawasan dan pengendalian pasar, perizinan, inspeksi regulatori, pengawasan uji klinik, pengujian laboratorium, hingga pelepasan bets vaksin (lot release).
Kepala BPOM menekankan bahwa pengakuan global hanya bermakna apabila berdampak langsung bagi perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menjamin mutu, keamanan, dan ketersediaan vaksin. “Perlu saya tegaskan bahwa WLA bukanlah titik akhir, melainkan titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” pungkas Taruna Ikrar.
Terlebih di usianya yang memasuki tahun ke-25, BPOM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran sebagai otoritas regulatori yang kredibel, adaptif, dan berpengaruh di tingkat nasional, regional, dan global demi perlindungan kesehatan masyarakat. Sebagaimana kata-kata apresiasi yang disampaikan oleh Joseph F. Arboleda-Velasquez dari Harvard University, agar BPOM terus tumbuh dengan yakin dan penuh percaya diri untuk masa depan yang lebih cerah, sebagai pemimpin bagi Asia dan dunia

















