IkonkataID, JAKARTA-BPOM menggelar acara Bedah Buku dengan tema Literasi Nusantara: Bedah Buku 7 Karya Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D secara Serentak dan Terbanyak dalam Balutan Budaya Indonesia, Kamis 31 Juli 2025. Acara yang digelar secara hybrid di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM dan melalui Zoom Meeting serta ditayangkan langsung di channel YouTube BPOM ini merupakan representasi fondasi pemikiran seorang Taruna Ikrar.
Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menegaskan buku bukan sekadar dokumentasi. Namun menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan kontemporer, seperti resistansi antimikroba, transformasi pengawasan, hingga kontribusi BPOM terhadap ketahanan ekonomi nasional.
“Resistansi obat dan antibiotik adalah silent pandemic yang nyata. Bila tidak dikendalikan, ini dapat berdampak pada krisis kesehatan dan sosial global,” paparnya. Taruna Ikrar melanjutkan, “Karena itu, BPOM harus hadir sebagai garda depan dalam perlindungan masyarakat.”
Taruna Ikrar juga menekankan pentingnya transparansi dan inovasi dalam setiap pelaksanaan tugas BPOM sebagai lembaga pemerintah. “Setiap rupiah yang dikelola BPOM adalah uang rakyat. Maka, transparansi adalah kata kuncinya, disusul dengan inovasi sebagai solusi,” tegasnya di hadapan seluruh undangan dan peserta acara.
Ketujuh buku yang dibedah mencerminkan lintasan sejarah dan masa depan BPOM. Mulai dari pengawasan era kolonial Hindia Belanda, strategi nasional pengendalian resistansi antimikroba (AMR), hingga visi BPOM menuju Indonesia Emas 2045. Buku-buku ini juga diharapkan menjadi rujukan ilmiah dan praktis bagi akademisi, birokrat, dan masyarakat umum.
Taruna Ikrar menyebutkan ketujuh buku hasil tulisannya merupakan wujud tanggung jawab intelektual dan kepemimpinan strategis dalam mengawal transformasi pengawasan obat dan makanan. “Kami menulis agar ilmu tak hilang dimakan waktu. Seperti hadits Rasulullah SAW: Jagalah ilmu dengan menulis. Ini adalah bentuk tanggung jawab intelektual dalam menjaga keberlanjutan pengawasan obat dan makanan,” lugasnya.
Tujuh buku yang diluncurkan dan dibedah berjudul 1) Ancaman ‘Silent Pandemic’ Akibat Resistensi Antimikroba; 2) Pengendalian Resistensi Antimikroba di Indonesia; 3) Badan POM Era Kolonial: Pengawasan Obat dan Makanan di Hindia Belanda (1800-1945); 4) Sejarah dan Perkembangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia: Dari Era Kolonial Hingga Era Modern; 5) Modernisasi Sistem Pengawasan Obat dan Makanan dalam Ekonomi Global; 6) Mengawal Mutu, Membangun Bangsa: Kontribusi Strategis Badan POM Bagi Ketahanan Ekonomi Indonesia; dan 7) Harmoni Keamanan dan Inovasi: Visi Strategis BPOM Menuju Indonesia Emas 2045.
Untuk memperkaya perspektif dan menelaah isi buku karya Taruna Ikrar tersebut, hadir 7 orang dari latar belakang yang berbeda untuk berdiskusi. Ketujuh orang tersebut yaitu Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Utama BPOM Mayagustina Andarini dan Tepy Usia; Pakar Ahli Kepala BPOM Bidang Sediaan Farmasi BPOM Rita Endang; Deputi Bidang Penindakan BPOM Tubagus Ade Hidayat; Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif William Adi Teja, serta Inspektur Utama Yang Setiadi. Masing-masing menyampaikan pendapatnya tentang isi ketujuh buku, dipandu oleh Sekretaris Utama BPOM Jayadi.
”Pada hari ini, kita sebenarnya tidak hanya sedang membedah buku, tapi mengungkap sebuah gagasan besar, mengawal mutu, dan membangun bangsa,” tutur Tubagus Ade Hidayat. Membedah buku Mengawal Mutu, Membangun Bangsa: Kontribusi Strategis Badan POM Bagi Ketahanan Ekonomi Indonesia, Tubagus mengatakan mengawal mutu artinya menjamin yang dikawalnya aman, dari awal sampai akhir.
Menurutnya, buku ini bercerita tentang apa yang dikerjakan BPOM, dengan obat dan makanan yang menjadi objeknya. Melalui buku yang berisi 5 bab ini, pembaca dapat mengetahui dan belajar tentang kontribusi BPOM terhadap bangsa Indonesia.
Selain bedah buku, hari ini diluncurkan pula Peta Jalan Rencana Aksi Pengendalian Resistansi Antimikroba di Lingkungan BPOM untuk periode 2025–2029. Peta jalan yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala BPOM Nomor 350 Tahun 2025 pada 16 Juni 2025 ini merupakan langkah nyata BPOM dalam upaya pengendalian resistansi antimikroba secara terintegrasi dan berkesinambungan.
Gelaran bedah buku yang dihadiri oleh pimpinan tinggi madya, fungsional ahli utama, pakar ahli BPOM, pejabat pimpinan tinggi pratama, kepala unit pelaksana teknis (UPT) seluruh Indonesia, dan seluruh pegawai BPOM ini mendapat apresiasi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). MURI menganugerahkan rekor nasional kepada Taruna Ikrar dan BPOM atas rekor Bedah Buku dengan Peserta Terbanyak.
Kepala BPOM mengajak seluruh peserta bedah untuk menjadikan literasi sebagai alat perjuangan. “Literasi adalah fondasi kita dalam memahami dunia dan membangun masa depan. Mari bersama wujudkan Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaulat melalui pengawasan obat dan makanan yang kokoh,” tutupnya.









