Kasus HIV-AIDS Makassar Tertinggi di Sulsel, Pemkot Perkuat Pencegahan

Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham menegaskan komitmen memperkuat edukasi, deteksi dini, layanan, dan kolaborasi lintas sektor menuju target Ending AIDS 2030.

Ikonkata-Pemerintah Kota Makassar memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS sebagai bagian dari dukungan terhadap target Ending AIDS 2030 di Sulawesi Selatan.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Travelers Phinisi, Jalan Lamaddukelleng Buntu, Makassar, Kamis (17/9/2026).

banner 970x250

Rakor yang diikuti sekitar 100 peserta itu menjadi forum untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, khususnya dalam pencegahan, deteksi dini, penanganan, serta edukasi masyarakat.

Makassar Catat 445 Kasus

Data yang dipaparkan dalam rakor menunjukkan temuan HIV-AIDS di Sulawesi Selatan mencapai 2.660 kasus pada 2023, kemudian 2.486 kasus pada 2024 dan 1.939 kasus pada 2025.

Sementara itu, sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat 963 kasus.

Berdasarkan kelompok umur, temuan didominasi kelompok usia 25–49 tahun sebesar 58 persen. Kelompok usia 15–24 tahun mencapai 35 persen, usia 30–50 tahun 6 persen, dan usia 15 tahun ke bawah 1 persen.

Kota Makassar mencatat jumlah temuan tertinggi dengan 445 kasus, disusul Kabupaten Gowa 74 kasus, Kota Palopo 38 kasus, Kabupaten Bulukumba 34 kasus, Kabupaten Jeneponto 27 kasus, Kabupaten Luwu Timur 23 kasus, dan Kabupaten Bantaeng 20 kasus.

Data tersebut menjadi perhatian Pemkot Makassar untuk memperkuat langkah preventif dan promotif, termasuk edukasi serta koordinasi antarpemangku kepentingan.

Perkuat Edukasi dan Deteksi Dini

Aliyah mengatakan, penanggulangan HIV-AIDS tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan. Perangkat daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, komunitas, dan masyarakat perlu terlibat dalam upaya tersebut.

“Upaya pencegahan HIV-AIDS tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi lintas sektor agar langkah pencegahan, edukasi, deteksi dini, hingga penanganan dapat berjalan secara optimal,” ujar Aliyah.

Ia menilai edukasi menjadi bagian penting, khususnya bagi kelompok usia produktif, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai HIV-AIDS sekaligus mencegah munculnya stigma.

“Angka ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Karena itu, pencegahan harus terus diperkuat. Edukasi kepada masyarakat juga penting agar informasi yang benar mengenai HIV-AIDS dapat dipahami dengan baik dan tidak menimbulkan stigma,” jelasnya.

Target Ending AIDS 2030

Aliyah menegaskan Pemkot Makassar akan terus mendorong perangkat daerah dan jajaran terkait untuk memperkuat koordinasi serta mendukung program penanggulangan HIV-AIDS yang sejalan dengan kebijakan pemerintah provinsi dan target nasional.

“Pemerintah Kota Makassar tentu berkomitmen mendukung upaya menuju Ending AIDS 2030. Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun kesadaran masyarakat, memperkuat pencegahan dan memastikan mereka yang membutuhkan mendapatkan akses layanan serta pendampingan,” katanya.

Ia berharap rakor tersebut tidak berhenti pada pembahasan, tetapi menghasilkan langkah konkret yang dapat diterapkan di masing-masing daerah.

“Harapan kita bersama, koordinasi ini tidak berhenti pada forum rapat saja, tetapi menghasilkan langkah nyata di lapangan. Pemkot Makassar siap bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan seluruh pihak terkait,” tutupnya.

Dalam kegiatan tersebut, Aliyah didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Makassar Ahmad Asy’ Arie. Rakor turut dihadiri perwakilan pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, perangkat daerah Pemprov Sulsel, pengelola program HIV-AIDS, KPA, KPAP Sulsel, PMI, serta LSM pemerhati HIV-AIDS.

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *