Ikonkata-TNI Angkatan Udara (TNI AU) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Kalimantan Timur. Operasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
OMC diarahkan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah terdampak karhutla dan kawasan sekitarnya. Hujan diharapkan dapat membasahi lahan sehingga penyebaran api lebih mudah dikendalikan.
Dalam operasi yang berlangsung Sabtu (22/8/2026), TNI AU mengerahkan pesawat Casa NC-212 dengan tail number A-2105. Pesawat tersebut bertolak dari Lanud Dhomber menuju wilayah sasaran.
Penyemaian awan dilakukan di wilayah utara dan utara Daerah Aliran Sungai (DAS) Sepaku Semoi pada ketinggian sekitar 8.000 kaki.
Awan yang menjadi sasaran memiliki ketinggian puncak sekitar 8.000 hingga 8.500 kaki. Sebanyak 800 kilogram natrium klorida (NaCl) digunakan sebagai bahan semai dalam operasi tersebut.
Pelaksanaan OMC melibatkan sejumlah pihak, yakni TNI AU, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, serta Otorita IKN.
Koordinasi lintas lembaga dilakukan untuk memastikan penyemaian awan dapat dilaksanakan sesuai kondisi cuaca dan kebutuhan wilayah yang terdampak karhutla.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan OMC merupakan salah satu langkah yang ditempuh TNI AU untuk membantu mempercepat penanganan karhutla.
“OMC dilaksanakan sebagai bagian dari upaya bersama untuk mengurangi risiko karhutla dengan meningkatkan peluang terjadinya hujan pada wilayah yang membutuhkan,” ujar Nyoman.
Menurutnya, TNI AU bersama BMKG, Pemprov Kalimantan Timur, dan Otorita IKN terus memperkuat koordinasi agar operasi berjalan tepat sasaran sekaligus mendukung penanganan karhutla.
Penyemaian awan tersebut diharapkan meningkatkan curah hujan di wilayah sasaran. Dengan kondisi lahan yang lebih basah, potensi penyebaran api dapat ditekan.
OMC juga menjadi bagian dari dukungan TNI AU terhadap upaya penanganan karhutla di kawasan IKN dan wilayah Kalimantan Timur, terutama ketika potensi pertumbuhan awan hujan tersedia.









