Ikonkata-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat kolaborasi dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) untuk memperkuat pengawasan obat dan makanan sekaligus membangun ketahanan kesehatan nasional.
Pesan tersebut disampaikan Kepala BPOM RI Taruna Ikrar saat menjadi keynote speaker dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (PIT IAI) 2026 di Medan, Kamis (6/8/2026).
Forum bertema “One Health, One Pharmacy, Synergy for National Resilience” itu diikuti sekitar 1.500 peserta yang terdiri atas apoteker lintas praktik, akademisi, peneliti, mahasiswa, regulator, pelaku industri, dan pemangku kepentingan sektor kesehatan.
Taruna menilai forum ilmiah seperti PIT IAI memiliki posisi strategis dalam memperkuat kapasitas profesi apoteker sekaligus membangun kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, ketahanan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional. Karena itu, pembangunan kesehatan tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan kuratif dan sektoral, tetapi harus bergerak menuju sistem yang preventif, kolaboratif, dan terintegrasi.
Salah satu pendekatan yang dinilai penting adalah One Health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Regulatory science berfungsi sebagai fondasi pendekatan One Health yang menjembatani perkembangan sains dan teknologi dengan kebijakan publik berbasis analisis risiko dan bukti ilmiah,” ujar Taruna.
Regulatory Science Jadi Jembatan Inovasi
Taruna mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pusat inovasi obat dan makanan. Populasi yang besar, bonus demografi, kekayaan alam, serta keanekaragaman hayati menjadi potensi yang harus diikuti dengan ekosistem riset dan regulasi yang kuat.
Dalam konteks tersebut, regulatory science dinilai penting agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk yang aman, bermutu, bermanfaat, dan memiliki daya saing.
Ia juga menyoroti tantangan resistansi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) yang menjadi salah satu persoalan kesehatan global.
BPOM, kata Taruna, memiliki peran melalui penguatan kebijakan, edukasi dan peningkatan kapasitas, surveilans, intervensi pengawasan, serta advokasi dan kerja sama lintas sektor.
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi profesi.
Kolaborasi tersebut ia sebut sebagai ABG—Academia, Business, Government.
“Jika seluruh elemen tersebut bergerak dalam satu ekosistem, kolaborasi akan menghasilkan dampak nyata, yaitu perlindungan masyarakat yang lebih optimal, meningkatnya daya saing dan kemandirian industri nasional, serta sistem kesehatan yang semakin tangguh dan berkelanjutan,” katanya.
Apoteker Jadi Mitra Strategis BPOM
Taruna juga memberikan apresiasi terhadap peran apoteker dalam memastikan penggunaan obat secara rasional, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta melakukan pemantauan keamanan produk melalui pelaporan efek samping dan pengawasan pascapasar.
Ia menilai perkembangan teknologi kesehatan membuat kompetensi apoteker harus terus berkembang.
Profesi tersebut tidak lagi hanya berhadapan dengan obat berbahan kimia, tetapi juga dituntut memahami perkembangan produk biologi, termasuk advanced therapy medicinal products (ATMP) dan living therapy.
Karena itu, IAI dinilai menjadi mitra strategis BPOM dalam memastikan obat dan produk kesehatan yang beredar memenuhi aspek keamanan, mutu, dan khasiat.
“IAI merupakan ‘rumah’ bagi BPOM karena sekitar 70 persen pegawai BPOM berasal dari profesi apoteker. BPOM membutuhkan dukungan IAI dalam penyusunan kebijakan dan regulasi,” ujar Taruna.
Ia menegaskan, regulasi tidak dibuat untuk menghambat industri maupun profesi, tetapi untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan yang optimal.
Pemerintah Targetkan Usia Harapan Hidup 76 Tahun
Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya turut menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan profesi kefarmasian dalam menghadapi tantangan kesehatan global.
Menurutnya, forum ilmiah harus mampu melahirkan gagasan, inovasi, dan rekomendasi yang menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan saat ini maupun masa depan.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang hadir secara daring, menyampaikan bahwa penguatan sektor kefarmasian menjadi bagian penting dalam mencapai target peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Pemerintah menargetkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat menjadi 76 tahun pada 2029, dari sekitar 74 tahun saat ini. Pada saat yang sama, pemerintah juga mendorong peningkatan usia hidup sehat masyarakat.
“Bukan cuma menaikkan usia hidup, tetapi juga sehat dan itu butuh sinergi pemerintah dengan kefarmasian,” kata Budi.
Ketua Umum PP IAI Lilik Yusuf Indrajaya menambahkan, PIT IAI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kompetensi dan wawasan para apoteker.
IAI, katanya, akan terus mendorong peningkatan kompetensi, kesejahteraan, perlindungan profesi, serta pengembangan kajian akademik dan praktik kefarmasian.
Melalui PIT IAI 2026, BPOM dan IAI menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi dalam pengawasan obat dan makanan, riset dan inovasi, peningkatan kompetensi apoteker, serta penyusunan kebijakan berbasis bukti ilmiah.
Sinergi tersebut diarahkan pada satu tujuan besar: membangun ketahanan kesehatan nasional sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan obat dan makanan yang aman, bermutu, berkhasiat, dan tepercaya.









