Ikonkata-Upaya mengurangi ketergantungan terhadap TPST Bantar Gebang mulai menunjukkan hasil di Jakarta Utara. Sebanyak 25 ribu rumah tangga kini tercatat aktif memilah sampah dari rumah sebagai bagian dari gerakan pengurangan sampah berbasis sumber.
Program tersebut telah berjalan di 460 RW dan menjadi salah satu strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menekan volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto, mengatakan keberhasilan program didukung penyediaan 1.380 unit tong drop point khusus sampah organik yang disebar di wilayah percontohan.
“Setiap RW percontohan mendapatkan tiga unit sarana drop point untuk sampah organik yang dapat dimanfaatkan langsung oleh warga,” ujar Edy, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, gerakan pemilahan sampah dari rumah mulai memberikan dampak nyata terhadap pengurangan timbulan sampah harian.
Selain pengelolaan sampah organik, sampah anorganik juga ditangani melalui Bank Sampah Unit (BSU) yang telah tersedia di setiap RW.
Salah satu capaian menonjol terjadi di Kelurahan Rorotan yang disebut telah mencapai tingkat partisipasi warga hingga 100 persen dalam pemilahan sampah dari sumber.
“Pengurangan sampah terbaik saat ini terlihat dari keterlibatan masyarakat yang semakin tinggi,” kata Edy.
Ia menjelaskan, rata-rata setiap kelurahan mampu mengurangi volume sampah sekitar enam hingga tujuh ton per hari. Capaian tersebut menempatkan Jakarta Utara sebagai wilayah dengan kinerja pengurangan sampah tertinggi di DKI Jakarta.
Keberhasilan itu tidak lepas dari keterlibatan berbagai unsur masyarakat, mulai dari petugas PPSU, kader PKK, hingga kelompok Dasa Wisma yang secara aktif melakukan edukasi dan pendampingan langsung kepada warga.
Pemprov DKI Jakarta sendiri menargetkan pengurangan sampah residu yang dikirim ke TPST Bantar Gebang hingga 50 persen pada 1 Agustus mendatang.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah juga memperkuat infrastruktur pengolahan sampah melalui fasilitas RDF Plant Rorotan.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 2.500 ton sampah per hari, lebih besar dibanding produksi sampah harian Jakarta Utara yang saat ini berada di kisaran 1.400 ton per hari.
Meski demikian, Edy mengakui perubahan perilaku masyarakat tidak bisa terjadi dalam waktu singkat. Namun ia optimistis target pengurangan sampah dapat dicapai seiring meningkatnya kesadaran warga dalam memilah sampah dari rumah.
“Perubahan perilaku memang membutuhkan proses, tetapi kami optimistis target pengurangan sampah sesuai peta jalan yang telah ditetapkan dapat tercapai,” ujarnya.









