Ikonkata– Perubahan terbesar telah terlihat dibawa pelatih asal Kanada John Herdman sejak resmi mengambil alih kursi pelatih Timnas Indonesia pada Januari 2026. Yakni mulai terlihat lahirnya identitas baru Timnas Indonesia.
Kemenangan 3-0 atas Oman dan kemenangan 1-0 atas Mozambik dalam FIFA Matchday Juni 2026 menjadi gambaran paling jelas tentang arah baru yang sedang dibangun Herdman.
Indonesia kini tidak lagi hanya bermain untuk menghibur. Tim Garuda mulai belajar bagaimana mengontrol pertandingan, mengelola momentum, dan yang terpenting, tahu cara menang.
Hal itu terlihat dari cara Indonesia menghadapi Oman, Jumat (5/6/2026) di Gelora Stadion Bung Karno Jakarta. Saat unggul dua gol, skuad Garuda tidak kehilangan bentuk permainan ketika Oman mendapatkan penalti. Emil Audero memang menjadi pahlawan lewat penyelamatan pentingnya, tetapi yang menarik adalah respons tim setelahnya.
Tidak ada kepanikan. Tidak ada kehilangan organisasi permainan. Indonesia tetap disiplin hingga akhirnya menutup laga dengan kemenangan 3-0 sekaligus mengakhiri penantian 38 tahun untuk kembali mengalahkan Oman.
Empat hari kemudian, Indonesia menghadapi Mozambik, Selasa (9/6/2026). Sebelumnya permainan sering diwarnai emosional dan terburu-buru ketika menghadapi lawan yang bertahan rapat, kali ini Indonesia tampil berbeda. Timnas Garuda mencetak gol cepat melalui Ole Romeny dan kemudian memainkan pertandingan sesuai ritme yang mereka inginkan.
Skor memang hanya 1-0, tetapi Indonesia mulai nyaman memenangkan pertandingan dengan cara yang dewasa. Inilah salah satu karakter yang selama bertahun-tahun sulit ditemukan dalam sepak bola nasional.
Herdman tampaknya sedang membangun sesuatu yang lebih dari sekadar tim tetapi membangun kultur.
Sejak diperkenalkan PSSI pada Januari lalu, Herdman berulang kali berbicara tentang keberagaman sebagai kekuatan utama Indonesia. Bagi herdman, perdebatan antara pemain diaspora dan pemain lokal bukanlah isu utama.
“Saya tidak melihat paspor mereka. Saya melihat peluang,” kata Herdman saat pertama kali diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Indonesia.
Kalimat itu kini mulai terlihat di lapangan.
Indonesia tidak lagi bermain sebagai kumpulan individu dengan latar belakang berbeda. Mereka mulai tampil sebagai satu kesatuan yang memiliki tujuan yang sama.
Menariknya, Herdman tidak datang ke Indonesia dengan reputasi pelatih yang identik dengan sepak bola atraktif. Di level internasional, ia dikenal sebagai pelatih yang membangun tim berdasarkan struktur, disiplin, dan mentalitas kompetitif.
Hal yang sama kini perlahan terlihat pada Timnas Indonesia.
Dalam empat pertandingan pertamanya, Indonesia mencetak 10 gol dan hanya kebobolan satu kali.
Lebih penting lagi, lawan-lawan Indonesia mulai kesulitan menemukan celah untuk menghukum kesalahan-kesalahan yang selama ini kerap menjadi kelemahan Garuda.
Tetapi hasil ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Herdman telah menemukan formula sempurna. Dia sendiri mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
“Saya pikir para pemain terus berkembang. Semuanya membutuhkan waktu,” ujarnya.
Namun jika melihat empat laga awal ini, ada satu hal yang sulit dibantah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Timnas Indonesia tidak hanya terlihat memiliki pemain-pemain berkualitas. Mereka mulai terlihat sebagai sebuah tim.









