Ikonkata-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memanfaatkan peringatan Hari Jamu Nasional 2026 untuk mendorong transformasi jamu dari sekadar warisan budaya menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, khususnya generasi muda.
Komitmen itu mengemuka dalam puncak perayaan Hari Jamu Nasional yang dikemas melalui Jamu Festival 2026, Minggu (7/6/2026), hasil kolaborasi BPOM dan Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu).
Festival tersebut menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan promotif, mulai dari Ginger Run 5K, Fresh Walk 3K, senam sehat, parade jamu gendong, lomba meracik jamu, hingga pameran produk herbal dan UMKM.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan jamu memiliki potensi besar untuk berkembang di tengah tren global yang kembali mengedepankan produk berbasis alam atau back to nature.
Menurutnya, masyarakat perlu melihat jamu bukan hanya sebagai produk tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari pola hidup sehat.
“Dengan olahraga dan konsumsi jamu, hidup akan semakin sehat. Ini merupakan kekayaan Indonesia yang harus kita banggakan,” ujar Taruna.
Ia menjelaskan, posisi jamu Indonesia semakin kuat setelah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Di tingkat global, pengobatan tradisional berbasis bukti ilmiah juga semakin mendapat ruang dalam sistem kesehatan dunia.
Taruna mengungkapkan Indonesia memiliki sekitar 31 ribu jenis tanaman yang tumbuh di Nusantara. Ribuan di antaranya telah dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan produk kesehatan.
Saat ini tercatat sekitar 22 ribu nomor izin edar yang berkaitan dengan obat asli Indonesia.
“Ini merupakan kekayaan yang luar biasa. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang menggemari jamu karena ini milik kita sendiri,” katanya.
Meski demikian, Taruna menilai tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mendekatkan jamu kepada generasi muda.
Menurutnya, inovasi menjadi kunci agar jamu mampu bersaing dengan berbagai produk kesehatan dan minuman modern yang berkembang pesat di pasaran.
“Jamu jangan dianggap barang kuno atau klasik yang tidak diperlukan lagi. Ke depan potensinya sangat besar. Generasi muda harus melihat ini sebagai kekayaan yang bernilai,” ujarnya.
Selain itu, BPOM juga mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan bisnis jamu.
Taruna menilai pola pemasaran jamu perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk melalui platform digital, layanan daring, hingga konsep usaha yang lebih dekat dengan gaya hidup anak muda.
“Penjualannya tidak harus lagi dari rumah ke rumah. Sekarang bisa memanfaatkan aplikasi digital dan platform online. Bisa juga dikembangkan dalam bentuk kafe atau konsep lain yang lebih menarik,” jelasnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum GP Jamu, Jony Yuwono, mengatakan pengembangan industri jamu tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga pelestarian identitas budaya Indonesia.
Menurutnya, keberadaan para penjual jamu gendong menjadi simbol bagaimana warisan budaya terus bertahan di tengah perubahan zaman.
“Para ibu jamu gendong berjuang melestarikan warisan budaya bangsa dan menjaga identitas Indonesia,” kata Jony.
Pada momentum tersebut, BPOM juga meluncurkan dua program strategis, yakni Buku PUSAKA (Pustaka Bahan Aktif) dan fitur BRIDGE yang ditujukan untuk memperkuat ekosistem riset, inovasi, dan pengembangan obat bahan alam nasional.
Selain itu, BPOM menyerahkan sejumlah Nomor Izin Edar (NIE) bagi produk obat herbal terstandar dan fitofarmaka hasil hilirisasi penelitian, sekaligus memberikan penghargaan kepada peneliti yang berhasil mengembangkan inovasi obat bahan alam yang telah dimanfaatkan masyarakat.
Bagi BPOM, masa depan jamu tidak hanya bergantung pada kekuatan tradisi. Lebih dari itu, jamu harus mampu bertransformasi menjadi produk kesehatan yang modern, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.









