Ikonkata-PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersiap mengembangkan sisi barat Bandara Internasional Kertajati sebagai pusat peningkatan kapasitas produksi pesawat. Langkah ini menjadi bagian dari tindak lanjut penugasan Presiden Prabowo Subianto kepada PTDI untuk memproduksi 110 pesawat, terdiri atas 80 unit CN235 dan 30 unit N219.
Pengembangan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara PTDI dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) Perseroda yang disaksikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
AHY menilai penguatan industri kedirgantaraan nasional harus dimulai dari keberpihakan terhadap produk dalam negeri. Menurutnya, Indonesia memiliki kemampuan industri yang memadai dan kini perlu memperluas pasar agar mampu bersaing di tingkat global.
Pada tahap awal, PTDI akan memanfaatkan fasilitas Bandara Kertajati, termasuk landasan pacu, untuk mendukung pengujian berbagai produk kedirgantaraan. Fasilitas tersebut akan digunakan untuk uji terbang pesawat sayap tetap, helikopter, hingga pesawat tanpa awak (UAS) yang dikembangkan untuk kebutuhan pertahanan maupun sektor komersial.
Pengembangan kawasan ini juga menjadi bagian dari strategi PTDI membangun ekosistem industri yang lebih terintegrasi. Selain produksi pesawat, kawasan Kertajati diproyeksikan mendukung kegiatan sertifikasi, maintenance, repair and overhaul (MRO), manufaktur struktur pesawat, serta layanan pendukung sepanjang siklus operasional pesawat.
Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Gita Amperiawan, menyebut kolaborasi tersebut menjadi fondasi sinergi antara industri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan mitra global dalam memperkuat daya saing sektor dirgantara nasional.










