Ikonkata-Maroko kembali membuktikan bahwa mereka bukan lagi sekadar kuda hitam di panggung sepak bola dunia. Setelah menahan Brasil 1-1 pada laga pembuka Grup Piala Dunia FIFA 2026, Atlas Lions mengirim pesan kuat bahwa pencapaian bersejarah mereka saat Piala Dunia Qatar 2022 masih jauh dari selesai.
Empat tahun setelah menjadi tim Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia, Maroko tampil dengan identitas yang sama: disiplin, agresif, dan tak kenal takut. Namun kali ini, tim asuhan Mohamed Ouahbi terlihat lebih matang.
Menghadapi Brasil di New York New Jersey Stadium, Maroko tidak sekadar bertahan. Mereka berani menekan, memenangkan duel-duel penting, dan melancarkan serangan balik cepat yang membuat Selecao kesulitan mengembangkan permainan, terutama sepanjang babak pertama.
Bagi Ouahbi, hasil imbang melawan salah satu favorit juara menjadi bukti bahwa timnya mampu kembali bersaing hingga fase akhir turnamen.
“Kami berpegang teguh pada prinsip permainan kami dan menjalankannya dengan baik. Tentu akan lebih baik jika menang, tetapi saya tidak kecewa dengan hasil ini,” kata Ouahbi, seperti dikutip dari FIFA.com.
Pelatih yang menggantikan Walid Regragui pada Maret lalu itu bahkan menegaskan ambisinya untuk melampaui pencapaian bersejarah di Qatar.
“Jika ditawari semifinal lagi seperti tahun 2022, saya ingin melangkah lebih jauh. Kami mendapatkan satu poin penting dan sekarang fokus pada pertandingan berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, pelatih Brasil Carlo Ancelotti mengakui timnya kesulitan menghadapi organisasi permainan Maroko.
“Saya merasa kami memulai pertandingan dengan buruk. Kami kalah dalam banyak duel dan tidak mampu menguasai bola. Babak kedua berjalan lebih baik, tetapi ini pertandingan yang sangat sulit karena Maroko adalah lawan yang kuat,” kata Ancelotti kepada FIFA.com.
Salah satu cerita terbesar dari penampilan Maroko adalah kemunculan generasi baru yang mulai mengambil peran penting di tim nasional.
Gelandang Lille berusia 18 tahun, Ayyoub Bouaddi, tampil menonjol di lini tengah. Sementara Samir El Mourabet memberikan energi baru setelah masuk dari bangku cadangan pada babak kedua.
“Ini pertandingan yang sangat emosional. Bermain di Piala Dunia selalu menjadi mimpi saya. Kami tahu sebenarnya bisa mencetak lebih banyak gol dan itu menjadi pelajaran untuk pertandingan berikutnya,” kata El Mourabet.
Ouahbi juga memberikan pujian kepada para pemain mudanya yang dinilai siap melanjutkan estafet generasi emas Maroko.
“Ayyoub bermain sangat baik, begitu juga Neil El Aynaoui. Samir tampil luar biasa dan Ounahi menunjukkan kualitasnya. Kami juga masih memiliki Amrabat dan banyak pemain muda lainnya. Masa depan sepak bola Maroko berada di tangan yang sangat baik,” ujarnya.
Dengan para pilar berpengalaman seperti Yassine Bounou, Achraf Hakimi, Noussair Mazraoui, dan Azzedine Ounahi tetap menjadi tulang punggung tim, serta hadirnya gelombang talenta muda yang menjanjikan, Maroko terlihat memiliki fondasi yang lebih kuat dibanding empat tahun lalu.
Hasil imbang melawan Brasil mungkin hanya menghasilkan satu poin. Namun bagi Maroko, itu adalah pernyataan.
Empat tahun setelah mengguncang dunia di Qatar, Atlas Lions kembali menunjukkan bahwa mereka tetap mampu membuat raksasa-raksasa sepak bola dunia bekerja keras. Dan jika performa ini berlanjut, perjalanan mereka di Piala Dunia FIFA 2026 bisa saja melampaui kisah bersejarah yang pernah mereka tulis pada 2022.










