Ikonkata– Upaya memperkuat kemandirian industri farmasi nasional terus mendapat dorongan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meresmikan fasilitas produksi injeksi steril lini 3 dan gudang (warehouse) milik PT Ethica Industri Farmasi (Ethica Farma) di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Kamis (4/6/2026).
Fasilitas baru milik anak usaha PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi obat-obatan esensial dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Peresmian dilakukan langsung oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar yang ditandai dengan penandatanganan prasasti dan penyerahan Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) kepada Direktur Utama PYFA, Lee Yan Gwan.
Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menilai pengembangan fasilitas produksi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketersediaan obat yang aman, berkhasiat, dan bermutu bagi masyarakat Indonesia.
Menurutnya, Ethica Farma selama ini memiliki kontribusi penting dalam penyediaan obat generik yang banyak dimanfaatkan dalam layanan kesehatan nasional, termasuk melalui program BPJS Kesehatan.
“Ethica Farma banyak fokus memproduksi obat generik yang digunakan masyarakat luas. Ini menjadi kontribusi penting dalam mendukung akses layanan kesehatan yang terjangkau,” ujar Taruna.
Ia menegaskan, penguatan kapasitas produksi dalam negeri menjadi semakin penting di tengah dinamika global, mulai dari fluktuasi nilai tukar hingga ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memengaruhi rantai pasok bahan baku dan produk kesehatan.
Karena itu, pemerintah melalui BPOM terus berupaya memberikan dukungan kepada industri farmasi nasional, baik melalui penguatan regulasi, pendampingan, maupun perluasan jejaring kolaborasi.
Taruna juga mendorong industri farmasi Indonesia untuk terus berinovasi, memperluas pasar ekspor, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor agar mampu bersaing di tingkat global.
“Kemandirian obat nasional hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang kuat antara regulator dan industri,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PYFA, Lee Yan Gwan, menyebut perluasan fasilitas produksi ini bukan semata-mata investasi bisnis, tetapi juga bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung kebutuhan layanan kesehatan masyarakat yang terus meningkat.
Menurut Lee, keberhasilan pengembangan fasilitas tersebut tidak lepas dari dukungan pemerintah, BPOM, Kementerian Kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan yang selama ini turut mendorong pertumbuhan industri farmasi nasional.
“Hari ini menjadi simbol bahwa industri farmasi Indonesia mampu berkembang dengan standar global sekaligus tetap berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain meresmikan fasilitas produksi, Kepala BPOM juga melakukan penanaman pohon di kawasan industri sebagai bagian dari dukungan terhadap target net zero carbon. Langkah tersebut dinilai menjadi simbol komitmen industri farmasi untuk tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.
Peresmian fasilitas baru Ethica Farma menjadi gambaran bagaimana pemerintah dan sektor industri berupaya memperkuat fondasi sistem kesehatan nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan dan tantangan rantai pasok global, investasi pada kapasitas produksi dalam negeri dinilai menjadi salah satu kunci untuk memastikan ketersediaan obat bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing farmasi Indonesia di masa depan.










