Ikonkata-Pemerintah Kabupaten Maros meluncurkan Gerakan Aksi Donasi Buku sebagai upaya memperkuat budaya literasi dan memperluas akses bacaan masyarakat di tengah masih rendahnya ketersediaan buku di Indonesia.
Gerakan tersebut diluncurkan langsung Bupati Maros, Chaidir Syam, saat upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Pallantikang, Kantor Bupati Maros, Selasa (19/5/2026).
Peluncuran gerakan dilakukan bersama Wakil Bupati Maros Muetazim Mansyur, Forkopimda, serta jajaran ASN Pemerintah Kabupaten Maros yang secara simbolis turut menyumbangkan buku melalui fasilitas book drop yang disediakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Maros bersama Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB).
“Gerakan ini menjadi wujud keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memperkuat penyediaan bahan bacaan untuk perpustakaan di Kabupaten Maros,” kata Chaidir Syam.
Pemerintah Kabupaten Maros menargetkan sedikitnya 1.000 judul buku terkumpul hingga peringatan Hari Jadi Maros pada Juli 2026 mendatang.
Penggerak Gerakan Aksi Donasi Buku Maros, Bachtiar Adnan Kusuma, mengatakan antusiasme ASN dalam gerakan tersebut cukup tinggi. Dalam waktu sekitar satu jam, donasi buku yang terkumpul disebut mencapai 652 judul dari berbagai genre, mulai dari sains, sastra, life skill, hingga buku umum.
“Kami memberi apresiasi atas kesadaran kolektif ASN Maros. Dalam waktu singkat, ratusan hingga hampir seribu judul buku berhasil terkumpul,” ujarnya.
Bachtiar menilai gerakan tersebut menjadi langkah konkret di tengah persoalan literasi nasional yang masih menghadapi keterbatasan akses buku baru bermutu.
Mengutip data Perpustakaan Nasional RI, jumlah buku baru yang memperoleh ISBN sepanjang 2025 tercatat sekitar 128 ribu judul, sementara jumlah penduduk Indonesia mencapai hampir 289 juta jiwa. Dengan kondisi tersebut, satu judul buku baru secara rata-rata hanya tersedia untuk lebih dari dua ribu orang.
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan Indonesia masih mengalami kekurangan pasokan buku untuk memenuhi kebutuhan literasi masyarakat.
“Ini bukan sekadar persoalan angka, tetapi menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” kata Bachtiar.
Ia menilai penguatan ekosistem literasi membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah, termasuk terhadap penulis, penerbit, perpustakaan, komunitas literasi, hingga toko buku lokal agar distribusi buku lebih merata.
Karena itu, Bachtiar mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Maros yang dinilai mulai membangun gerakan literasi berbasis partisipasi masyarakat melalui aksi donasi buku.
Gerakan tersebut diluncurkan bertepatan dengan momentum Hari Buku Nasional dan Hari Perpustakaan Nasional sebagai bagian dari upaya membangun budaya membaca di daerah.










