Ikonkata-Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan komitmen lembaganya dalam mendorong percepatan pengembangan terapi kesehatan berbasis teknologi mutakhir di Indonesia. Hal itu disampaikan dalam kuliah tamu bertajuk Implementasi Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP) melalui kolaborasi ABG di Indonesia International Institute for Life Sciences, Senin (27/4/2026).
Forum yang digagas bersama PT Kalbe Farma Tbk ini menjadi ruang strategis mempertemukan akademisi, industri, dan pemerintah untuk mempercepat inovasi terapi berbasis gen, sel, dan bioteknologi.
Taruna menekankan, pendekatan academia-business-government (ABG) menjadi kunci dalam memastikan inovasi kesehatan berjalan cepat namun tetap aman.
“Target utama BPOM adalah menghadirkan obat inovatif bagi masyarakat. Kami hadir untuk membantu dan melayani, bukan mempersulit proses perizinan,” ujarnya.
Selain Taruna, forum ini juga menghadirkan Radiyati yang memaparkan riset terkait osteoarthritis. Kegiatan turut dihadiri pimpinan industri, akademisi, mahasiswa, hingga komunitas kesehatan.
BPOM menegaskan perannya tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga fasilitator. Pengawalan dilakukan menyeluruh, mulai dari riset, uji klinik, hingga pascaproduksi, guna memastikan setiap inovasi memenuhi standar keamanan, efektivitas, dan mutu.
Dalam skema ABG, kampus berperan pada riset dan pengembangan SDM, industri pada investasi dan komersialisasi, sementara pemerintah memberikan pendampingan regulasi agar proses berjalan efisien.
Taruna juga menyoroti tren global yang menunjukkan lonjakan pengembangan terapi berbasis biologi, termasuk terapi gen dan RNA. Inovasi ini dinilai membuka peluang pengobatan yang lebih presisi, khususnya untuk penyakit kronis, kanker, dan kelainan genetik.
Dari sisi ekonomi, pengembangan ATMP dinilai strategis. Selain mendorong investasi, sektor ini berpotensi menciptakan lapangan kerja dan memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.
BPOM juga mendorong percepatan hilirisasi riset perguruan tinggi agar tidak berhenti di laboratorium, tetapi menjadi produk nyata yang dapat diakses masyarakat melalui layanan kesehatan.
Optimisme tersebut diperkuat dengan pengakuan BPOM sebagai WHO-Listed Authority untuk vaksin, yang menandakan standar pengawasan Indonesia telah diakui secara global.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Mulai dari kompleksitas produksi, kebutuhan data klinis jangka panjang, hingga pengawasan keamanan yang ketat.
Diskusi interaktif yang menutup forum menunjukkan tingginya antusiasme peserta. ATMP tak sekadar inovasi, tetapi juga harapan baru bagi akses pengobatan yang lebih maju dan personal bagi masyarakat Indonesia.










